Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Thursday, February 8, 2018

Kebebasan VS Dorongan Biologis



Bagi banyak orang, kebahagiaan hidup dapat tercapai manakala mereka memiliki kebebasan. Mereka beralasan, kebebasan memberikan mereka ruang untuk berkreasi, menjadi diri sendiri, dan ruang untuk menempa keberanian.

Well, penulis setuju dengan pendapat seperti itu. Kebebasan memang dapat memberikan ruang bagi kreativitas. Selain itu, kebebasan juga memberikan kesempatan bagi kita untuk menjadi diri sendiri dan menempa keberanian.

Namun demikian, banyak sekali yang menyalahartikan kebebasan. Banyak orang yang menyalahartikan kebebasan sebagai bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin dalam hidup.
Akibat penyalahartian ini, banyak orang yang menjalani hidup secara bebas: bangun tidur semaunya; bebas melakukan apa pun yang ia inginkan; bebas memaki orang sekasar-kasaranya; mengonsumsi makanan semaunya.

Tentu saja, bebas dalam artian seperti itu tidak membawa kebaikan dan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, kebebasan yang seperti itu justru membawa kesengsaraan dan ketidakpuasan dalam hidup.

Mengapa?
Bayangkan saja, Anda memiliki prinsip hidup bebas sebebas-bebasnya. Menurut Anda, hanya dengan begitu, hidup Anda menjadi bahagia dan puas. Karena prinsip itu, Anda pun enggan menerapkan disiplin dalam hidup Anda sendiri. Anda mengharamkan aturan dan disiplin dalam hidup Anda. Walhasil, Anda tidur dan bangun sesuka Anda; Anda makan seturut nafsu Anda; Anda mandi hanya ketika Anda ingin mandi; Anda membaca buku seseuai mood Anda.

Jika sudah begitu, maka tidak menutup kemungkinan hidup Anda jadi kacau!

Bagaimana tidak? Ketika Anda mengonsumsi makanan semau-mau Anda, Anda tidak mempertimbangkan segi manfaat dan mudaratnya bagi tubuh Anda. Apa pun Anda lahap apabila Anda memang menginginkannya. Ketika Anda ingin makan makanan yang tidak sehat, Anda langsung menyantapnya tanpa memikirkan dampak negatifnya bagi Anda; Ketika terbersit keinginan untuk merokok, Anda pun lantas menyulut sebanyak yang Anda mau; Ketika ingin minuman keras, Anda lantas meneguk sebanyak yang Anda inginkan.

Hasilnya, Anda terjangkit penyakit yang tidak Anda harapkan.

Demikian juga ketika Anda melakukan apa pun semau Anda. Ketika Anda ingin begadang, Anda pun menuruti keinginan itu; Ketika belum ingin bangun, Anda pun tidak segera beranjak dari tempat tidur; Ketika tidak ingin mandi, Anda pun menurutinya.

Walhasil, Anda tidak bisa mencurahkan 100% waktu Anda untuk mencapai goal-goal Anda. Bagaimana Anda mencurahkan waktu untuk meraih goal Anda jika Anda malah sibuk tidur? Bagaimana Anda mencurahkan waktu Anda untuk mencapai cita-cita Anda jika Anda malah sibuk bermain game?

Demikian logikanya.
Nah, sampai di sini, kita tahu bahwa kebebasan memang dapat membuat kita bahagia. Tetapi, kebebasan itu bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin hidup.
Jika demikian, lantas apa arti kebebasan yang sesungguhnya? Kebebasan yang bagaimana yang dapat membuat hidup Anda bahagia?

Jawabannya, kebebasan di mana Anda bebas menentukan hidup Anda sendiri, tetapi kebebasan itu disertai KESADARAN mengenai KONSEKUENSI dari pilihan hidup Anda. Singkatnya, kebebasan yang BERTANGGUNG JAWAB!

Tetapi, apa maksud kebebasan yang bertanggung jawab?

Maksudnya, tidak ada yang memaksa dan mengatur Anda untuk melakukan sesuatu: Tidak ada yang memaksa Anda untuk bangun jam 5 pagi setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda mengonsumsi makanan sehat; Tidak ada yang memaksa Anda membaca buku setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda untuk tidak begadang. Namun, Anda sendiri tergugah untuk melakukannya karena Anda SADAR KONSEKUENSInya bagi hidup Anda. Anda bebas menentukan jalan hidup Anda, tetapi Anda menyikapi kebebasan itu SECARA DEWASA.

Dengan kebebasan yang seperti itu, terbuka lebar ruang untuk berkreativitas, mengembangkan diri, dan menjadi diri sendiri. Selain itu, dengan kebebasan yang seperti itu, Anda dapat mengonsentrasikan waktu dan perhatian Anda untuk meraih goal-goal Anda. Kebebasan yang seperti itu tidak menghalangi Anda untuk hidup disiplin demi meraih goal Anda.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, kalau gitu, sama aja boong. Hidup bebas kok disiplin, banyak aturan! Hidup bebas, ya, bebas ngapa-ngapain. Ga ada aturan dan larangan. Lagipula, aturan itu kan bikin kita jadi robot!”

Hmm, untuk menjawab sanggahan seperti itu, penulis memiliki penjelasan yang mengejutkan tentang kebebasan.


Penasaran?
Yuk, langsung simak uraiannya berikut ini.

Kebebasan dan Dorongan Biologis

Dalam hidup, kita dihadapkan pada berbagai pilihan, baik yang mendukung goal kita atau pun yang menghambat kita meraih goal.

Sebagai contoh, dalam hidup, Anda berkeinginan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang.
Dan, Anda sadar, untuk berkembang, Anda perlu terus belajar, menjadi pembelajar seumur hidup. Itu artinya, Anda harus meluangkan waktu untuk belajar.

Berhubung Anda sudah dewasa, tidak ada yang memberlakukan aturan hidup bagi Anda. Tidak ada yang mewajibkan Anda hidup disiplin sedemikian sehingga ada waktu untuk belajar. Sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan jalan hidup Anda sendiri.

Di hadapan Anda, terdapat berbagai pilihan, di mana, sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan yang mana yang akan Anda pilih. Pilihan yang tersedia mulai dari TV, buku, tidur, game, dan bersenang-senang. Anda bebas menentukan pilihan Anda. Tetapi, untuk meraih goal Anda (menjadi pembelajar), Anda perlu memilih pilihan yang tepat yang mendukung goal tersebut. Anda HARUS memilih buku dan mengesampingkan TV, game, dan kesenangan.

“Lhah, saya, kan, bebas. Saya bebas memilih pilihan sesuka hati saya, dong. Dan, saya lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, saya pilih main game,” mungkin demikian sanggah Anda.
Yup! Tidak diragukan Anda bebas untuk memilih bermain game atau membaca buku. Tetapi, berhubung goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, maka Anda perlu memilih membaca buku. Anda bahkan wajib.

Bagaimana jika Anda memilih bermain game yang memang merupakan HOBI Anda?


Tentu saja Anda BEBAS memilih bermain game. Tetapi, kebebasan itu merupakan kebebasan yang SEMU! Apabila goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, sementara Anda lebih GEMAR game dan karenanya Anda memilih game, sebenarnya, Anda justru tidak bebas!

Kok bisa?
Anda terjebak pada dorongan biologis Anda! (kesenangan, seperti bermain game, merupakan dorongan biologis). Anda terkekang olehnya. Pihak yang menentukan jalan hidup Anda bukanlah diri Anda sendiri, melainkan dorongan biologis Anda. Anda mengijinkan dorongan itu menjadi tuan bagi kehidupan Anda! Kebebasan Anda dirampas oleh dorongan tersebut.

Sampai di sini, apa yang dapat Anda tangkap?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan kesenangan. Salah satu dorongan alamiah manusia yaitu lebih menyukai aktivitas rekreasional/kesenangan daripada aktivitas kerja. Manusia yang bebas adalah manusia yang dapat membebaskan diri dari dorongan alamiahnya. Sebagai contoh, ia dapat memebebaskan diri dari dorongan untuk bermain game/melakukan kesenangan dan memilih untuk melakukan aktivitas kerja seperti membaca buku. Manakala ia masih terjebak pada dorongan alamiah, maka dapat dikatakan, kebebasannya ditentukan oleh dorongan tersebut, bukan oleh KEHENDAKnya sendiri. Atau, dalam kata lain, ia tidak bebas.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, masa, sih? Saya merasa bebas kok memilih bersenang-senang daripada melakukan kerja keras.”

Yup! Memilih melakukan dorongan alamiah daripada melakukan aktivitas kerja yang dapat menuntun Anda meraih goal sekilas terasa menyenangkan. Anda merasakan sensasi kebebasan ketika memilih bermain game daripada membaca buku (jika goal Anda adalah menjadi pembelajar).

Tetapi, mau tidak mau, Anda harus menerima konsekuensinya. Memilih bermain game daripada membaca buku membawa konsekuensi negatif bagi Anda: wawasan Anda kurang, Anda ketinggalan informasi, ilmu Anda tidak bertambah.

Nah, awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal! Niscaya, Anda merasa tidak puas dengan hidup Anda.

Contoh lainnya bagaimana?
Contoh lainnya, Anda memiliki goal mengecilkan badan. Ceritanya, ukuran baju Anda sekarang double XL. Dan, Anda ingin mengecilkan badan Anda hingga baju berukuran M muat di badan Anda.

Untuk meraih goal itu (mengecilkan badan), Anda perlu mengontrol pola makan Anda. Anda perlu menyetop kebiasaan ngemil Anda. Nah, suatu hari, Anda diundang di pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, banyak sekali makanan yang lezat, yang menggugah selera Anda. Setelah berusaha menahan diri, akhirnya Anda tidak tahan. Anda mengambil satu di antara makanan lezat itu dan menyantapnya. Dan, Anda pun merasakan sensasi kebebasan! Anda merasa diri Anda terbebas dari aturan diet yang menyiksa.

Tetapi, sebenarnya, Anda justru tidak bebas! Dengan menyantap makanan itu, sejatinya Anda terbelenggu oleh dorongan biologis Anda. Pada awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal!

“Tapi, kan, jika saya memilih menahan diri, artinya saya tidak bebas?!” demikian sanggah Anda.
Hmm, untuk menjawabnya, mari kita simak penjelasan berikut.

Arti Kebebasan yang Sebenarnya

Pada bab sebelumnya, dipaparkan sebuah ilustrasi yang menggambarkan Anda sedang dalam proses diet. Dalam ilustrasi itu, ceritanya, Anda sedang menghadiri pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, terdapat banyak sekali makanan yang menggugah selera. Dan, Anda bebas menyantapnya.
Melihat makanan-makanan itu, Anda pun tergoda. Awalnya Anda bimbang antara menyantapnya atau menahan godaan itu. Tetapi, setelah menimbang-nimbang, Anda pun akhirnya memutuskan untuk mengambil satu dan melahapnya.

Nah, bagaimana jika Anda bersikeras menahan godaan itu? Bagaimana jika Anda tetap berpegang teguh pada aturan diet yang melarang Anda untuk menyantap makanan itu? Apakah itu artinya Anda tidak bebas?
Jawabannya, sebaliknya! Anda justru bebas!

Kok bisa?
Dengan tetap berpegang teguh pada aturan diet, Anda memilih melakukan KEHENDAK Anda daripada melakukan dorongan biologis Anda. Anda BEBAS dari dorongan biologis Anda. Kehendak Anda tidak tunduk pada dorongan itu.

Nah, sampai di sini, apa yang dapat Anda pahami?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan dorongan biologis, melainkan bebas melakukan KEHENDAK Anda. Kehendak ini berbeda dari dorongan biologis. Apabila Anda sedang diet, maka kehendak Anda adalah menahan godaan diet. Sementara itu, dorongan biologis Anda adalah menyantap makanan kesukaan Anda. Anda dapat dikatakan bebas apabila Anda mampu melakukan kehendak Anda (berdiet) dan menjauhi dorongan biologis. Sebaliknya, Anda dikatakan tebelenggu manakala Anda memilih melakukan dorongan biologis Anda (menyantap makanan kesukaan Anda).
Mungkin, Anda bertanya begini: “Bukankah mengikuti aturan diet berarti tidak bebas? Kan, Saya malah terbelenggu sama aturan itu?”

Yup! Ketika mengikuti aturan diet, ada sensasi terbelenggu dalam diri Anda. Kebebasan untuk menyantap makanan sesuka Anda lenyap. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda akan berpikir sebaliknya.

Awalnya, Anda boleh merasa terkekang ketika Anda melakukan aturan diet. Tetapi, ketika Anda berhasil mengecilkan badan Anda, maka Anda pun merasa senang dan puas. Anda puas usaha Anda berhasil. Dan, selain kepuasan, Anda diliputi rasa merdeka dan bebas. Anda niscaya merasa merdeka dan menang dari dorongan biologis yang dulu menggoda Anda.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, apa yang dapat Anda simpulkan?

Kebebasan bukanlah berarti bebas memilih melakukan apa pun yang Anda inginkan. Kebebasan terkait dengan TUJUAN/GOAL Anda.

Anda dikatakan bebas manakala Anda mampu menahan dorongan biologis Anda apabila dorongan biologis itu tidak sesuai atau bertentangan dengan goal Anda. Dan, sebaliknya, Anda memilih untuk melakukan aktivitas yang mampu mengantarkan Anda pada goal tersebut, sekali pun aktivitas itu berat dilakukan.

Kebebasan berarti Anda mampu mengesampingkan dorongan biologis Anda (apabila dorongan biologis itu bertentangan dengan goal Anda) dan memilih melakukan aktivitas yang mendukung goal Anda. Kebebasan berarti Anda mampu mengontrol diri Anda untuk tidak terjebak pada kesenangan sesaat. 

Hanya dengan melakukan kebebasan seperti di atas lah, hidup Anda akan terasa membahagiakan dan memuaskan.

Sumber: aquariuslearning.co.id

Sunday, October 29, 2017

MENGAPA KAMU SEORANG KATOLIK?


oleh Pater William P. Saunders

Pertanyaan:

Terkadang saya bertemu dengan orang-orang yang mengatakan, "Oh, saya dulu seorang Katolik." Kemudian mereka bertanya, "Mengapakah kamu tetap tinggal dalam Gereja Katolik?" Mohon jawaban yang baik untuk menanggapi pertanyaan "Mengapa kamu seorang Katolik?"

Tanggapan:

Setiap orang Katolik sepatutnya dapat memberikan suatu jawaban yang mantap dan mendalam atas pertanyaan, "Mengapa kamu seorang Katolik?" Tentu saja, bagi tiap-tiap invidivu, jawabannya bersifat amat pribadi dan mungkin agak berbeda dari jawaban orang lain.

Saya harap, tak seorang pun dari kita yang telah dewasa akan sekedar menjawab, "Yah, karena orang tua membaptisku Katolik" atau "Aku dibesarkan secara Katolik" atau "Keluargaku semuanya Katolik." Bukan. Bagi masing-masing kita, jawabannya haruslah pribadi, dari lubuk hati dan penuh keyakinan.

Saya akan memberikan jawaban saya atas pertanyaan ini.

*Pertama-tama*, saya akan mengatakan bahwa saya seorang Katolik karena *inilah Gereja yang didirikan Yesus Kristus*. Sejarawan paling ahli sekali pun akan harus mengakui bahwa Gereja Kristen pertama yang ada sejak jaman Kristus adalah Gereja Katolik Roma. Perpecahan besar pertama dalam kekristenan baru muncul pada tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel berselisih dengan paus atas siapa yang lebih berwenang; sang Patriark mengekskomunikasi paus, yang ganti mengekskomunikasi Patriark, dan lahirlah Gereja-gereja "Orthodox". Kemudian, pada tahun 1517, Martin Luther memicu gerakan Protestan, dan ia diikuti oleh Calvin, Zwingli, dan Henry VIII. Sejak itu, Protestanisme telah terpecah-pecah menjadi banyak Gereja-gereja Kristen lainnya.

Namun demikian, satu-satunya Gereja dan Gereja Kristen pertama yang didirikan Kristus adalah Gereja Katolik. Pernyataan ini tidak berarti bahwa tidak ada kebaikan dalam Gereja-gereja Kristen lainnya. Tidak pula berarti bahwa orang-orang Kristen lainnya tidak dapat masuk surga. Tetapi, sungguh berarti bahwa ada sesuatu yang istimewa mengenai Gereja Katolik. Konsili Vatican II dalam "Konstitusi Dogmatis tentang Gereja" memaklumkan bahwa *KEPENUHAN dari sarana-sarana keselamatan ada dalam Gereja Katolik sebab inilah Gereja yang didirikan Kristus (No. 8)*.

*Alasan kedua* mengapa saya seorang Katolik ialah karena *Suksesi Apostolik. Yesus mempercayakan otoritas-Nya kepada para rasul*. Ia memberikan otoritas khusus kepada Petrus, yang disebut-Nya sebagai "batu karang" dan kepada siapa Ia mempercayakan kunci Kerajaan Allah. Sejak jaman para rasul, otoritas ini telah diwariskan melalui Sakramen Imamat dari uskup ke uskup, dan kemudian diperluas ke imam dan diakon. Uskup kita sendiri, andai mau, dapat menelusuri kembali otoritasnya sebagai seorang uskup hingga ke jaman para rasul. Dalam tahbisan imamat yang suci, Bapa Uskup menumpangkan tangannya ke atas kepala calon imam yang akan ditahbiskan. Dalam saat khidmad itu, suksesi apostolik diwariskan. Dalam terang iman, orang dapat melihat bukan saja Bapa Uskup, melainkan St. Petrus dan St. Paulus, bahkan Yesus Sendiri, menyampaikan tahbisan suci. *Tidak ada uskup, imam ataupun diakon dalam Gereja kita yang menahbiskan dirinya sendiri atau memproklamirkan dirinya sendiri; tetapi otoritas itu berasal dari Yesus Sendiri dan dijaga oleh Gereja*.

*Alasan ketiga* mengapa saya seorang Katolik adalah karena *kita percaya akan kebenaran, yakni kebenaran mutlak yang diberikan oleh Tuhan Sendiri*. Kristus menyebut Diri-Nya sebagai "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:6). Ia menganugerahkan kepada kita Roh Kudus, yang disebut-Nya Roh Kebenaran (Yoh 14:17), yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan yang akan mengingatkan kita akan semua yang telah Ia ajarkan (Yoh 14:26). Kebenaran Kristus telah dipelihara dalam Kitab Suci. Konsili Vatican II dalam "Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi" memaklumkan bahwa, "segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang ilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita" (No. 11). Kebenaran ini terus dipelihara dan diterapkan pada suatu masa dan budaya tertentu oleh magisterium, yakni otoritas mengajar Gereja. Sementara kita menghadapi berbagai macam issue seperti bioetika atau euthanasia - masalah-masalah yang tak pernah dibicarakan secara spesifik dalam Kitab Suci - betapa beruntungnya kita mempunyai Gereja yang mengatakan "Cara hidup seperti ini adalah benar atau cara ini salah menurut kebenaran Kristus." Tak heran, Gereja Katolik menjadi berita utama di surat-surat kabar; kita adalah satu-satunya Gereja yang berpendirian tegas dan mengatakan, “Ajaran ini adalah benar selaras dengan pemikiran Kristus.”

*Alasan lain* mengapa saya seorang Katolik adalah *karena sakramen-sakramen kita*. Kita percaya akan ketujuh sakramen yang dianugerahkan Yesus kepada Gereja. Masing-masing sakramen menangkap suatu unsur penting dari kehidupan Kristus, dan melalui kuasa Roh Kudus mendatangkan bagi kita keikutsertaan dalam kehidupan ilahi Allah. Sebagai contoh, coba renungkan betapa anugerah mahaberharga kita boleh menyambut Ekaristi Kudus, Tubuh dan Darah Tuhan kita, atau menyadari bahwa dosa-dosa kita telah sungguh diampuni dan jiwa kita dipulihkan setiap kali kita menerima absolusi dalam Sakramen Tobat.

Dan yang *terakhir*, saya seorang Katolik *karena orang-orang yang membentuk Gereja*. Saya mengenangkan begitu banyak para kudus: St Petrus dan St Paulus yang memelihara agar Injil hidup pada masa-masa awali. Pada masa penganiayaan Romawi, para martir awal Gereja—seperti St. Anastasia, St. Lusia, St. Yustinus atau St. Ignatius dari Antiokhia, yang pada tahun 100 menyebut Gereja "Katolik"—membela iman dan menderita aniaya maut karenanya. Pada Abad-abad Kegelapan, ketika banyak hal sungguh "gelap", memancarlah terang yang benderang dari St. Fransiskus, St. Dominikus dan St. Katarina dari Siena. Pada masa gerakan Protestan, ketika bidaah mengoyak Gereja, Gereja dibela oleh St. Robertus Bellarminus dan St. Ignatius Loyola, para reformator sejati. Saya berpikir mengenai para kudus yang hidup di jaman kita, seperti Moeder Teresa atau Paus Yohanes Paulus II, yang dari hari ke hari melakukan karya kudus Allah. Ada begitu banyak para kudus yang mengilhami masing-masing kita untuk menjadi warga Gereja yang baik.

Tetapi ada mereka-mereka yang lain juga. Pada waktu Misa, arahkanlah pandangan ke sekeliling gerejamu. Lihatlah pasangan-pasangan suami isteri yang berjuang untuk mengamalkan Sakramen Perkawinan dalam abad yang memperturutkan hawa nafsu dan perselingkuhan. Lihatlah orang-orangtua yang rindu mewariskan iman kepada anak-anak mereka. Lihatlah kaum muda yang berjuang untuk mengamalkan iman kendati dunia yang penuh pencobaan. Lihatlah kaum lanjut usia yang tetap setia kendati perubahan-perubahan dalam dunia dan Gereja. Lihatlah para imam dan kaum religius yang membaktikan hidup mereka demi melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Ada begitu banyak orang yang membentuk Gereja kita.

*Ya, tak seorang pun sempurna. Kita berdosa. Itulah sebabnya mengapa salah satu doa terindah dalam Perayaan Misa dipanjatkan sebelum tanda damai; kita berdoa, "Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu." Ya, kendati segala kelemahan manusia, Gereja, sebagai lembaga yang didirikan oleh Kristus, terus melaksanakan misi-Nya di dunia ini.*

Singkat kata, itulah alasan-alasan mengapa saya seorang Katolik dan seorang warga Gereja Katolik Roma. Alasan-alasan ini bukanlah asal. Melainkan, mencerminkan permenungan mendalam dan pergulatan, setelah dibaptis Katolik, setelah melewatkan masa pendidikan di sekolah St Bernadette, setelah lulus dari SMA West Springfield, dan setelah pergumulan sengit dengan iman sepanjang hari-hari perkuliahan di William and Mary dan kemudian di Seminari. Saya harap setiap orang Katolik dapat dengan bangga memberikan suatu jawaban yang jelas dan mendalam atas pertanyaan, "Mengapa kamu seorang Katolik?"

******************************

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

Sumber: "Straight Answers: 'Why Are You A Catholic?'" by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1997 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id139.htm