Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Wednesday, April 10, 2019

MENJADI MANUSIA HEBAT

Amsal 14:29 “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Untuk menjadi manusia yang hebat tidaklah mudah. Manusia kerap menyalah artikan kata “hebat” itu sendiri. Pikiran mereka mulai fokus untuk bekerja keras dan meraih semua yang terbaik.

Manusia seperti ini hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Karya tangannya memang sempurna, namun hatinya penuh dengan kecacatan.

Manusia yang hebat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri & penguasaan diri. Bila kita ingin menjadi hebat, maka kita harus bisa menyeimbangkan antara impian diri sendiri dan impian orang lain.

Jangan sampai keinginan kita melukai orang lain. Jangan hanya karena mengejar impian, kita melupakan orang-orang di sekitar kita.

Keluarga kita juga mempunyai impian, mungkin sangat sederhana yaitu agar kita bisa mengasihi mereka.

Jadilah hebat dengan mengendalikan amarah, penuhilah hati dengan pengampunan. Jadilah hebat saat orang-orang berebut untuk mempermalukan kita, tenangkan hati di dalam doa. Di dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita dan kita dapat berdoa. Jadilah hebat saat mereka meremehkan kita, tersenyumlah terhadap apa yang mereka katakan.

”Jangan pernah berhenti untuk bersabar saat cobaan selalu menghampiri, hadapi semua dengan mengucap syukur.”

Tetap semangat dlm Tuhan Yesus Kristus, terus berjuang dan Tuhan mengasihi selalu.

JANGAN MENGERASKAN HATIMU

(Yohanes 8 : 51-59)

Hati orang Yahudi sungguh membatu sehingga terus hidup menurut tingkah laku Iblis sehingga firman Tuhan tidak pernah ada di dalam hati mereka

Mereka bukan hanya menutup hati terhadap Yesus, tetapi juga melancarkan dua tuduhan baru

Pertama, Yesus adalah orang Samaria (48). Ini merupakan tuduhan yang bersifat rasis karena orang Yahudi membenci dan menganggap orang Samaria sebagai blasteran

Kedua, Yesus telah kerasukan setan (48, 52), karena dianggap suka menyampaikan perkataan yang tidak masuk akal dan tidak sesuai fakta

Tuduhan kerasukan setan muncul (48) karena Yesus menyatakan bahwa mereka bukan anak-anak Abraham, melainkan anak-anak Iblis (44-47). Tuduhan itu muncul juga karena Yesus menawarkan hidup kekal kepada mereka yang mau percaya padahal menurut mereka

Abraham dan para nabi yang percaya dan taat firman Allah tetap mati. Dengan demikian, mereka menganggap Yesus telah menempatkan diri-Nya jauh lebih besar daripada mereka semua.

Menjawab tuduhan itu, Yesus kembali menegaskan hubungan-Nya dengan Bapa: Dia memuliakan Bapa, tetapi mereka tidak memuliakan Dia dan Bapa yang mengutus-Nya.

Yesus tidak mencari kemuliaan bagi diri-Nya karena hanya Bapa yang patut dimuliakan dan akan memuliakan Dia. Bapa yang demikian tidak mereka kenal, tetapi Yesus kenal dan hidup sesuai firman-Nya

Dalam hal ini, Abraham bersukacita karena akan dan telah menyaksikan kedatangan Yesus yang jauh lebih besar daripada dirinya. Karena sebelum Abraham ada di dunia, Yesus telah ada, bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan dan tidak pernah ada sesaat pun Dia tidak ada

Namun sebagai keturunan Abraham, mereka tetap tidak percaya karena sejak awal mereka menolak Dia, bahkan ingin melempari-Nya dengan batu

Banyak orang yang terus menolak serta menyerang Yesus dan berita Injil karena mereka terus mengeraskan hati

Adakah kita prihatin atas sikap mereka? Doakanlah agar kasih karunia Tuhan menjamah mereka

Monday, February 26, 2018

KETIKA AGAMA KEHILANGAN TUHAN

Puisi K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Dulu agama menghancurkan berhala.
Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.
Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama.
Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.
Lalu yang berubah apanya?
Manusia nya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya.
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya,yg paling cerdas di antara orang2 lainnya,
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian.
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan.
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan.
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan.
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan,tak kan pernah dianggap salah,tak pernah ditolak,dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.

Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diper-Tuhan-kan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan.
Agama kini menghujat Tuhan.

Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?

Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan
aturan agama.

Monday, October 30, 2017

Menjadi Bahagia

::: Homili dari Sri Paus Franciskus :::
*di terjemahkan oleh Rm. Ignatius Ismartono,SJ

Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tidak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini.
Hanya engkau yg sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak org membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu. ��

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki
• Langit tanpa badai, atau
• Bekerja tanpa merasa letih
• Hubungan tanpa kekecewaan

Menjadi bahagia adalah ��
• mencari kekuatan untuk memaafkan
• mencari harapan dalam perjuangan
• mencari rasa aman disaat ketakutan
• mencari kasih di saat perselisihan

Menjadi bahagia bukan
• hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan
• hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan
• hanya bergembira karen menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis. ��

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yg mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri. ��

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mujizat kehidupan. ��

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita, melainkan bagaimana membawa diri kita untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita di tolak.

Untuk memiliki rasa mantap ketika di kritik meskipun kritik itu tidak adil.

Dengan mencium anak - anak, merawat orang tua, menciptakan saat - saat indah bersama sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti memiliki kedewasaan untuk mengaku "Saya salah" dan memiliki keberanian untuk berkata "maafkan saya"

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantapkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah,
Jangan berhenti mengasihi orang - orang yang engkau cintai...
Jangan menyerah untuk menjadi bahagia
Karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luarbiasa .

Sunday, October 29, 2017

Pupuklah Kebaikan dalam Dirimu

RP. Yos Ivo Sinaga OFM. Cap.

“Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai. Pupuklah kebaikan dalam dirimu dengan kelemah lembutan, siramilah dengan kasih dan kamu akan menuai kebahagiaan,”

Hidup berjalan berdasarkan rencana Allah. Dia telah menata dan mengatur sejarah hidupmu kini dan yang akan datang. Bahkan sebelum lahir Ia telah mengenalmu. Hal yang indah dan terpenting dalam hidupmu ialah bahwa Allah telah penuh perhitungan “menempatkanmu” sebagai penghuni dunia ini dan dia selalu mengiringi langkah hidupmu. Dan hal terindah lagi bahwa Allah akan tetap mengasihimu walau bagaimanapun keadaan dirimu. Bahkan dosa sekali pun tidak akan mampu menghalangi kasih, rahmat dan berkat-Nya untukmu.

Para sahabat terkasih berjuanglah menjadi orang baik dan kamu bisa kalau anda mau. Muatan baik dalam artian penuh pengertian, pemahaman, penuh kelemah lembutan, dan kerendahan hati. Kebaikan itulah yang akan menghantarmu kepada kebahagiaan sejati yang telah dijanjikan Allah. Pupuklah kebaikan itu dalam dirimu. Ibu Teresa mengatakan, “Tidak semua orang mampu melakukan hal besar tetapi semua orang mampu melakukan hal kecil dengan cinta besar.”

Ada beberapa cara memupuk kebaikan dalam diri. Pertama ialah hargailaj dirimu sebagai ciptaan Allah yang baik dan luhur maka kamu juga akan menghargai orang lain. Kasihilah juga dirimu sendiri karena Ia, penciptamu juga mengasihimu, dengan itu juga kamu akan tergerak untuk mengasihi sesamamu. Dan juga cintailah dirimu karena itu akan menjadi kekuatanmu untuk menjadi pribadi yang berguna bukan hanya untukmu tetapi juga orang lain.

Kedua, pupuklah pemikiran positif terhadap sesama. Dengan jalan ini anda tidak akan merendahkan sesama. Ingatlah setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Karena itu sebelum menilai orang lain hendaknya kita lebih dahulu melihat diri. Ketika kita menunjuk orang lain dengan satu jari, beberapa jari yang lain terarah dan menunjuk diri kita sendiri.

Ketiga, kalau anda belum mampu menjadi sahabat bagi orang lain sekurang-kurangnya jangan menjadi musuh yang menjadi batu sandungan. Kalau anda belum mampu menghibur sesama sekurang-kurangnya jangan membuatnya sedih dan menangis. Kalau anda belum mampu memujinya dengan tulus jangan bergembira dan menari di atas penderitaan sesama. Dan kalau anda tidak mau membantu maka janganlah menambah beban hidup orang lain. Siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan karena apa yang ia tanam itu juga yang ia tuai. Atau dengan kata ekstrim, siapa yang menabur angin akan menuai badai, atau apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai. (Galatia 6;7)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mateus 5;16)

Saturday, March 4, 2017

Ego yang tinggi

Retaknya suatu relasi (suami-istri, tunangan, sahabat, teman atau pun rekan bisnis) bukan pertama2 karena adanya konflik atau pertengkaran, tapi pada ego yang tinggi pada salah satu patner atau bisa pada kedua2nya.

Ego yg tinggi, membuat kita merasa lebih dari yang lain, menguasainya, karena ia merasa tahu segalanya tentang patnernya. Ia melihat dan mengukur kebenaran menurut ukuran dirinya sendiri. Ia kemudian bersikap acuh tak acuh, bahkan terkesan angkuh dan sombong sebab ia merasa diri yang paling benar, dan memegang kendali terhadap situasi. Hal ini yang kemudian menyebabkan ia menutup hatinya sehingga menerima atau mengatakan maaf adalah tindakan yg ia rasa membuatnya kelihatan lemah dan kalah. Kata maaf yang tulus dari orang lain dilihatnya sebagai kebohongan dan kepura-puraan. Ia memasang tembok untuk dirinya sendiri terhadap orang lain.

Saya atau anda mungkin pernah atau bahkan hingga saat ini memiliki ego yang demikian. Jika tujuan utama kita dalam berelasi ada membangun relasi tersebut maka sdh tentu kita harus merendahkan ego kita yang tinggi. Jika ingin tetap mempertahankan ego tersebut, maka kita tak akan pernah berhasil menjalin relasi dgn siapa saja. Relasi tersebut akan selalu gagal, gagal, dan gagal lagi. Pilihanmu menentukan kebahagianmu.

Friday, March 3, 2017

Kesetiaan

Ketika kita memutuskan atau berkomitment sesuatu terhadap Tuhan, diri sendiri atau pun dengan orang lain, di saat yg sama keputusan dan komitmen kita akan mulai dicobai, diuji apakah kita akan tetap setiap terhadap apa yg telah dikomitmenkan atau terhadap apa yg telah diputuskan. Ujian dan cobaan itu bisa sangat jelas kita ketahui namun juga bisa sangat halus dan terkadang tanpa disadari.

Apa pun keputusan dan komitmen yg akan kita buat, Berharaplah terus pada-Nya, sebab perjuangan untuk tetap setia hingga akhir hanya mungkin oleh karena-Nya. Bukan hanya karena kekuatan kita atau pun hanya karena bantuan dari orang lain tapi karena hanya Dia yang mampu memberikan kita kekuatan, kesabaran dan ketabahan dalam perjuangan untuk setia hingga akhir.