Wednesday, April 10, 2019

MENJADI MANUSIA HEBAT

Amsal 14:29 “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Untuk menjadi manusia yang hebat tidaklah mudah. Manusia kerap menyalah artikan kata “hebat” itu sendiri. Pikiran mereka mulai fokus untuk bekerja keras dan meraih semua yang terbaik.

Manusia seperti ini hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Karya tangannya memang sempurna, namun hatinya penuh dengan kecacatan.

Manusia yang hebat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri & penguasaan diri. Bila kita ingin menjadi hebat, maka kita harus bisa menyeimbangkan antara impian diri sendiri dan impian orang lain.

Jangan sampai keinginan kita melukai orang lain. Jangan hanya karena mengejar impian, kita melupakan orang-orang di sekitar kita.

Keluarga kita juga mempunyai impian, mungkin sangat sederhana yaitu agar kita bisa mengasihi mereka.

Jadilah hebat dengan mengendalikan amarah, penuhilah hati dengan pengampunan. Jadilah hebat saat orang-orang berebut untuk mempermalukan kita, tenangkan hati di dalam doa. Di dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita dan kita dapat berdoa. Jadilah hebat saat mereka meremehkan kita, tersenyumlah terhadap apa yang mereka katakan.

”Jangan pernah berhenti untuk bersabar saat cobaan selalu menghampiri, hadapi semua dengan mengucap syukur.”

Tetap semangat dlm Tuhan Yesus Kristus, terus berjuang dan Tuhan mengasihi selalu.

JANGAN MENGERASKAN HATIMU

(Yohanes 8 : 51-59)

Hati orang Yahudi sungguh membatu sehingga terus hidup menurut tingkah laku Iblis sehingga firman Tuhan tidak pernah ada di dalam hati mereka

Mereka bukan hanya menutup hati terhadap Yesus, tetapi juga melancarkan dua tuduhan baru

Pertama, Yesus adalah orang Samaria (48). Ini merupakan tuduhan yang bersifat rasis karena orang Yahudi membenci dan menganggap orang Samaria sebagai blasteran

Kedua, Yesus telah kerasukan setan (48, 52), karena dianggap suka menyampaikan perkataan yang tidak masuk akal dan tidak sesuai fakta

Tuduhan kerasukan setan muncul (48) karena Yesus menyatakan bahwa mereka bukan anak-anak Abraham, melainkan anak-anak Iblis (44-47). Tuduhan itu muncul juga karena Yesus menawarkan hidup kekal kepada mereka yang mau percaya padahal menurut mereka

Abraham dan para nabi yang percaya dan taat firman Allah tetap mati. Dengan demikian, mereka menganggap Yesus telah menempatkan diri-Nya jauh lebih besar daripada mereka semua.

Menjawab tuduhan itu, Yesus kembali menegaskan hubungan-Nya dengan Bapa: Dia memuliakan Bapa, tetapi mereka tidak memuliakan Dia dan Bapa yang mengutus-Nya.

Yesus tidak mencari kemuliaan bagi diri-Nya karena hanya Bapa yang patut dimuliakan dan akan memuliakan Dia. Bapa yang demikian tidak mereka kenal, tetapi Yesus kenal dan hidup sesuai firman-Nya

Dalam hal ini, Abraham bersukacita karena akan dan telah menyaksikan kedatangan Yesus yang jauh lebih besar daripada dirinya. Karena sebelum Abraham ada di dunia, Yesus telah ada, bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan dan tidak pernah ada sesaat pun Dia tidak ada

Namun sebagai keturunan Abraham, mereka tetap tidak percaya karena sejak awal mereka menolak Dia, bahkan ingin melempari-Nya dengan batu

Banyak orang yang terus menolak serta menyerang Yesus dan berita Injil karena mereka terus mengeraskan hati

Adakah kita prihatin atas sikap mereka? Doakanlah agar kasih karunia Tuhan menjamah mereka

Membangun Cinta Dalam Pernikahan

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?

Bukan...
Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap...
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?
Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Mau punya teman hidup ?
Jatuh cintalah....
Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta...Jagalah KOMITMEN awal.

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan TUHAN.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK
Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak2x Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja2x kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA 'PIL/ Pria Idaman lain.
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA 'WIL/ Wanita Idaman lain.
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS
GUNAKANLAH FORMULA 7K

a.Ketakutan akan Tuhan
b.Kasih sayang
c.Kesetiaan
d.Komunikasi dialogis
e.Keterbukaan
f.Kejujuran
g.Kesabaran

Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau TUHAN sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti IA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan TUHAN dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI "CARA" KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.

Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,
Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.
Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.

Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.
Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.
Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.
Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat !!
Better me = Better we.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan suami :
A. Tidak perhatikan perasaan istri.
Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan istri :
A. Memberi petunjuk tanpa diminta.
Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.
B. Mengeluhkan suami d¡ hadapan orang lain.
C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga,
milikiLah komitmen2x ini :
1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:

1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)

2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)

3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)

4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)

5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)

6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)

7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)

8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)

9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)

10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Kidung Agung 8:7 "Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta. Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina."

Konfliks dan perselisihan menggerus cinta perlahan-lahan seperti abrasi mengikis pantai.

Waktu atas sebuah pernikahan membuat cinta menjadi pudar, padahal asal muasal cinta begitu kuat tak terpadamkan, cinta sejati tidak bisa dibayar dengan harta benda.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita " I LOVE YOU " biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Kenapa kita disatukan dengan pasangan kita, agar kita saling melengkapi.

Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita.

Ketahuilah! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan pasangan yang memiliki pikiran yang sama.

Ketika kita bangun pagi ini pandang pasangan kita lalu katakan "saya membutuhkan kamu tanpa kamu hidup jadi tidak sempurna"

Lalu mulailah merangkai perbedaan perbedaan dengan pasangan kita agar menjadi satu sehingga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.

Percayalah ! Mulai saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang diberkati TUHAN.

Tuhan Yesus memberkati 😊😇

SIFAT & CIRI GEREJA KRISTUS

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 225

Seri Katekismus
SIFAT & CIRI GEREJA KRISTUS

Syalom aleikhem.
Bagaikan roh kita untuk badan kita, seperti itulah Roh Kudus bagi Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Roh Kudus menghidupkan dan menjadikan Gereja “kanisah”. Kanisah itu bait suci, maka Gereja adalah bait suci Roh Kudus. Karena itu, di mana ada Gereja, di situ ada Roh Allah.

Roh itu menganugerahkan aneka ragam karunia khusus yang disebut karisma kepada Umat Allah untuk berbagai karya atau tugas. Semua karisma digunakan untuk membangun Gereja, maksudnya melayani kesejahteraan manusia dan kebutuhan dunia. Siapa yang menerima karisma wajib menghormati para gembala Gereja yang dipilih Allah untuk mempertahankan apa yang baik.

Sifat & Ciri

Itulah – sudah dipaparkan sejak beberapa edisi lalu – Gereja Kristus. Dalam ikrar iman kita atawa Syahadat a.k.a. Kredo, Gereja Kristus itu kita akui, kita sebut Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Inilah keempat sifat Gereja. Keempatnya tak dapat diceraikan satu sama lain, keempatnya melukiskan ciri-ciri hakikat Gereja. In short, keempatnya adalah sifat sekaligus ciri Gereja untuk menilai seperti apakah Gereja Kristus itu.

Dari manakah asal sifat-sifat itu? Dari Allah sendiri. Umat Allah mencerap dan menerimanya melalui sejarah dan mengindahkannya sebagai tanda yang jelas bagi Gereja Kristus.

Gereja itu satu. Apanya yang satu? Ada tiga hal: (1) asalnya, (2) pendirinya, (3) jiwanya. Gereja itu menurut asalnya adalah dari Allah. Gereja satu menurut pendirinya, yaitu Kristus. Dan jiwanya adalah Roh Kudus yang menciptakan persekutuan dan menjadi pemersatu. Roh Kudus roh pemersatu, bukan roh pemecah-belah. Demikianlah kalau dikatakan Gereja itu satu.

Gereja itu satu juga karena adanya ikatan kesatuan. Apakah sajakah ikatan itu? Ada tiga hal: (1) ikrar iman, (2) ibadat, (3) suksesi. Apa maksudnya? Ikrar iman adalah pengakuan iman yang satu dan sama sebagaimana diwariskan oleh Para Rasul. Iman kita kini adalah iman yang mengikuti iman Para Rasul dulu, bukan iman hasil ciptaan satu-dua orang tertentu.

Ikatan kedua adalah ibadat. Gereja yang satu itu satu dalam perayaan ibadat, terutama dalam sakramen-sakramen. Ada tujuh sakramen dalam Gereja Kristus. Di manapun di seluruh dunia, ketujuhnya dijunjung sebagai sakramen-sakramen suci tanpa terkecuali.

Ikatan ketiga adalah suksesi apostolik, artinya Gereja yang satu digembalakan oleh pemimpin yang sah diangkat dengan Sakramen Tahbisan yang tidak terputus mata rantainya sejak para Rasul, bukan oleh (orang yang mengaku) pemimpin yang mengangkat dirinya sendiri atas dasar mandat atau wangsit entah dari mana.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 797 – 815

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring (imeliba@yahoo.co.id)

Monday, February 26, 2018

KETIKA AGAMA KEHILANGAN TUHAN

Puisi K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Dulu agama menghancurkan berhala.
Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.
Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama.
Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.
Lalu yang berubah apanya?
Manusia nya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya.
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya,yg paling cerdas di antara orang2 lainnya,
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian.
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan.
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan.
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan.
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan,tak kan pernah dianggap salah,tak pernah ditolak,dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.

Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diper-Tuhan-kan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan.
Agama kini menghujat Tuhan.

Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?

Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan
aturan agama.

Thursday, February 8, 2018

Kebebasan VS Dorongan Biologis



Bagi banyak orang, kebahagiaan hidup dapat tercapai manakala mereka memiliki kebebasan. Mereka beralasan, kebebasan memberikan mereka ruang untuk berkreasi, menjadi diri sendiri, dan ruang untuk menempa keberanian.

Well, penulis setuju dengan pendapat seperti itu. Kebebasan memang dapat memberikan ruang bagi kreativitas. Selain itu, kebebasan juga memberikan kesempatan bagi kita untuk menjadi diri sendiri dan menempa keberanian.

Namun demikian, banyak sekali yang menyalahartikan kebebasan. Banyak orang yang menyalahartikan kebebasan sebagai bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin dalam hidup.
Akibat penyalahartian ini, banyak orang yang menjalani hidup secara bebas: bangun tidur semaunya; bebas melakukan apa pun yang ia inginkan; bebas memaki orang sekasar-kasaranya; mengonsumsi makanan semaunya.

Tentu saja, bebas dalam artian seperti itu tidak membawa kebaikan dan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, kebebasan yang seperti itu justru membawa kesengsaraan dan ketidakpuasan dalam hidup.

Mengapa?
Bayangkan saja, Anda memiliki prinsip hidup bebas sebebas-bebasnya. Menurut Anda, hanya dengan begitu, hidup Anda menjadi bahagia dan puas. Karena prinsip itu, Anda pun enggan menerapkan disiplin dalam hidup Anda sendiri. Anda mengharamkan aturan dan disiplin dalam hidup Anda. Walhasil, Anda tidur dan bangun sesuka Anda; Anda makan seturut nafsu Anda; Anda mandi hanya ketika Anda ingin mandi; Anda membaca buku seseuai mood Anda.

Jika sudah begitu, maka tidak menutup kemungkinan hidup Anda jadi kacau!

Bagaimana tidak? Ketika Anda mengonsumsi makanan semau-mau Anda, Anda tidak mempertimbangkan segi manfaat dan mudaratnya bagi tubuh Anda. Apa pun Anda lahap apabila Anda memang menginginkannya. Ketika Anda ingin makan makanan yang tidak sehat, Anda langsung menyantapnya tanpa memikirkan dampak negatifnya bagi Anda; Ketika terbersit keinginan untuk merokok, Anda pun lantas menyulut sebanyak yang Anda mau; Ketika ingin minuman keras, Anda lantas meneguk sebanyak yang Anda inginkan.

Hasilnya, Anda terjangkit penyakit yang tidak Anda harapkan.

Demikian juga ketika Anda melakukan apa pun semau Anda. Ketika Anda ingin begadang, Anda pun menuruti keinginan itu; Ketika belum ingin bangun, Anda pun tidak segera beranjak dari tempat tidur; Ketika tidak ingin mandi, Anda pun menurutinya.

Walhasil, Anda tidak bisa mencurahkan 100% waktu Anda untuk mencapai goal-goal Anda. Bagaimana Anda mencurahkan waktu untuk meraih goal Anda jika Anda malah sibuk tidur? Bagaimana Anda mencurahkan waktu Anda untuk mencapai cita-cita Anda jika Anda malah sibuk bermain game?

Demikian logikanya.
Nah, sampai di sini, kita tahu bahwa kebebasan memang dapat membuat kita bahagia. Tetapi, kebebasan itu bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin hidup.
Jika demikian, lantas apa arti kebebasan yang sesungguhnya? Kebebasan yang bagaimana yang dapat membuat hidup Anda bahagia?

Jawabannya, kebebasan di mana Anda bebas menentukan hidup Anda sendiri, tetapi kebebasan itu disertai KESADARAN mengenai KONSEKUENSI dari pilihan hidup Anda. Singkatnya, kebebasan yang BERTANGGUNG JAWAB!

Tetapi, apa maksud kebebasan yang bertanggung jawab?

Maksudnya, tidak ada yang memaksa dan mengatur Anda untuk melakukan sesuatu: Tidak ada yang memaksa Anda untuk bangun jam 5 pagi setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda mengonsumsi makanan sehat; Tidak ada yang memaksa Anda membaca buku setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda untuk tidak begadang. Namun, Anda sendiri tergugah untuk melakukannya karena Anda SADAR KONSEKUENSInya bagi hidup Anda. Anda bebas menentukan jalan hidup Anda, tetapi Anda menyikapi kebebasan itu SECARA DEWASA.

Dengan kebebasan yang seperti itu, terbuka lebar ruang untuk berkreativitas, mengembangkan diri, dan menjadi diri sendiri. Selain itu, dengan kebebasan yang seperti itu, Anda dapat mengonsentrasikan waktu dan perhatian Anda untuk meraih goal-goal Anda. Kebebasan yang seperti itu tidak menghalangi Anda untuk hidup disiplin demi meraih goal Anda.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, kalau gitu, sama aja boong. Hidup bebas kok disiplin, banyak aturan! Hidup bebas, ya, bebas ngapa-ngapain. Ga ada aturan dan larangan. Lagipula, aturan itu kan bikin kita jadi robot!”

Hmm, untuk menjawab sanggahan seperti itu, penulis memiliki penjelasan yang mengejutkan tentang kebebasan.


Penasaran?
Yuk, langsung simak uraiannya berikut ini.

Kebebasan dan Dorongan Biologis

Dalam hidup, kita dihadapkan pada berbagai pilihan, baik yang mendukung goal kita atau pun yang menghambat kita meraih goal.

Sebagai contoh, dalam hidup, Anda berkeinginan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang.
Dan, Anda sadar, untuk berkembang, Anda perlu terus belajar, menjadi pembelajar seumur hidup. Itu artinya, Anda harus meluangkan waktu untuk belajar.

Berhubung Anda sudah dewasa, tidak ada yang memberlakukan aturan hidup bagi Anda. Tidak ada yang mewajibkan Anda hidup disiplin sedemikian sehingga ada waktu untuk belajar. Sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan jalan hidup Anda sendiri.

Di hadapan Anda, terdapat berbagai pilihan, di mana, sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan yang mana yang akan Anda pilih. Pilihan yang tersedia mulai dari TV, buku, tidur, game, dan bersenang-senang. Anda bebas menentukan pilihan Anda. Tetapi, untuk meraih goal Anda (menjadi pembelajar), Anda perlu memilih pilihan yang tepat yang mendukung goal tersebut. Anda HARUS memilih buku dan mengesampingkan TV, game, dan kesenangan.

“Lhah, saya, kan, bebas. Saya bebas memilih pilihan sesuka hati saya, dong. Dan, saya lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, saya pilih main game,” mungkin demikian sanggah Anda.
Yup! Tidak diragukan Anda bebas untuk memilih bermain game atau membaca buku. Tetapi, berhubung goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, maka Anda perlu memilih membaca buku. Anda bahkan wajib.

Bagaimana jika Anda memilih bermain game yang memang merupakan HOBI Anda?


Tentu saja Anda BEBAS memilih bermain game. Tetapi, kebebasan itu merupakan kebebasan yang SEMU! Apabila goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, sementara Anda lebih GEMAR game dan karenanya Anda memilih game, sebenarnya, Anda justru tidak bebas!

Kok bisa?
Anda terjebak pada dorongan biologis Anda! (kesenangan, seperti bermain game, merupakan dorongan biologis). Anda terkekang olehnya. Pihak yang menentukan jalan hidup Anda bukanlah diri Anda sendiri, melainkan dorongan biologis Anda. Anda mengijinkan dorongan itu menjadi tuan bagi kehidupan Anda! Kebebasan Anda dirampas oleh dorongan tersebut.

Sampai di sini, apa yang dapat Anda tangkap?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan kesenangan. Salah satu dorongan alamiah manusia yaitu lebih menyukai aktivitas rekreasional/kesenangan daripada aktivitas kerja. Manusia yang bebas adalah manusia yang dapat membebaskan diri dari dorongan alamiahnya. Sebagai contoh, ia dapat memebebaskan diri dari dorongan untuk bermain game/melakukan kesenangan dan memilih untuk melakukan aktivitas kerja seperti membaca buku. Manakala ia masih terjebak pada dorongan alamiah, maka dapat dikatakan, kebebasannya ditentukan oleh dorongan tersebut, bukan oleh KEHENDAKnya sendiri. Atau, dalam kata lain, ia tidak bebas.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, masa, sih? Saya merasa bebas kok memilih bersenang-senang daripada melakukan kerja keras.”

Yup! Memilih melakukan dorongan alamiah daripada melakukan aktivitas kerja yang dapat menuntun Anda meraih goal sekilas terasa menyenangkan. Anda merasakan sensasi kebebasan ketika memilih bermain game daripada membaca buku (jika goal Anda adalah menjadi pembelajar).

Tetapi, mau tidak mau, Anda harus menerima konsekuensinya. Memilih bermain game daripada membaca buku membawa konsekuensi negatif bagi Anda: wawasan Anda kurang, Anda ketinggalan informasi, ilmu Anda tidak bertambah.

Nah, awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal! Niscaya, Anda merasa tidak puas dengan hidup Anda.

Contoh lainnya bagaimana?
Contoh lainnya, Anda memiliki goal mengecilkan badan. Ceritanya, ukuran baju Anda sekarang double XL. Dan, Anda ingin mengecilkan badan Anda hingga baju berukuran M muat di badan Anda.

Untuk meraih goal itu (mengecilkan badan), Anda perlu mengontrol pola makan Anda. Anda perlu menyetop kebiasaan ngemil Anda. Nah, suatu hari, Anda diundang di pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, banyak sekali makanan yang lezat, yang menggugah selera Anda. Setelah berusaha menahan diri, akhirnya Anda tidak tahan. Anda mengambil satu di antara makanan lezat itu dan menyantapnya. Dan, Anda pun merasakan sensasi kebebasan! Anda merasa diri Anda terbebas dari aturan diet yang menyiksa.

Tetapi, sebenarnya, Anda justru tidak bebas! Dengan menyantap makanan itu, sejatinya Anda terbelenggu oleh dorongan biologis Anda. Pada awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal!

“Tapi, kan, jika saya memilih menahan diri, artinya saya tidak bebas?!” demikian sanggah Anda.
Hmm, untuk menjawabnya, mari kita simak penjelasan berikut.

Arti Kebebasan yang Sebenarnya

Pada bab sebelumnya, dipaparkan sebuah ilustrasi yang menggambarkan Anda sedang dalam proses diet. Dalam ilustrasi itu, ceritanya, Anda sedang menghadiri pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, terdapat banyak sekali makanan yang menggugah selera. Dan, Anda bebas menyantapnya.
Melihat makanan-makanan itu, Anda pun tergoda. Awalnya Anda bimbang antara menyantapnya atau menahan godaan itu. Tetapi, setelah menimbang-nimbang, Anda pun akhirnya memutuskan untuk mengambil satu dan melahapnya.

Nah, bagaimana jika Anda bersikeras menahan godaan itu? Bagaimana jika Anda tetap berpegang teguh pada aturan diet yang melarang Anda untuk menyantap makanan itu? Apakah itu artinya Anda tidak bebas?
Jawabannya, sebaliknya! Anda justru bebas!

Kok bisa?
Dengan tetap berpegang teguh pada aturan diet, Anda memilih melakukan KEHENDAK Anda daripada melakukan dorongan biologis Anda. Anda BEBAS dari dorongan biologis Anda. Kehendak Anda tidak tunduk pada dorongan itu.

Nah, sampai di sini, apa yang dapat Anda pahami?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan dorongan biologis, melainkan bebas melakukan KEHENDAK Anda. Kehendak ini berbeda dari dorongan biologis. Apabila Anda sedang diet, maka kehendak Anda adalah menahan godaan diet. Sementara itu, dorongan biologis Anda adalah menyantap makanan kesukaan Anda. Anda dapat dikatakan bebas apabila Anda mampu melakukan kehendak Anda (berdiet) dan menjauhi dorongan biologis. Sebaliknya, Anda dikatakan tebelenggu manakala Anda memilih melakukan dorongan biologis Anda (menyantap makanan kesukaan Anda).
Mungkin, Anda bertanya begini: “Bukankah mengikuti aturan diet berarti tidak bebas? Kan, Saya malah terbelenggu sama aturan itu?”

Yup! Ketika mengikuti aturan diet, ada sensasi terbelenggu dalam diri Anda. Kebebasan untuk menyantap makanan sesuka Anda lenyap. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda akan berpikir sebaliknya.

Awalnya, Anda boleh merasa terkekang ketika Anda melakukan aturan diet. Tetapi, ketika Anda berhasil mengecilkan badan Anda, maka Anda pun merasa senang dan puas. Anda puas usaha Anda berhasil. Dan, selain kepuasan, Anda diliputi rasa merdeka dan bebas. Anda niscaya merasa merdeka dan menang dari dorongan biologis yang dulu menggoda Anda.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, apa yang dapat Anda simpulkan?

Kebebasan bukanlah berarti bebas memilih melakukan apa pun yang Anda inginkan. Kebebasan terkait dengan TUJUAN/GOAL Anda.

Anda dikatakan bebas manakala Anda mampu menahan dorongan biologis Anda apabila dorongan biologis itu tidak sesuai atau bertentangan dengan goal Anda. Dan, sebaliknya, Anda memilih untuk melakukan aktivitas yang mampu mengantarkan Anda pada goal tersebut, sekali pun aktivitas itu berat dilakukan.

Kebebasan berarti Anda mampu mengesampingkan dorongan biologis Anda (apabila dorongan biologis itu bertentangan dengan goal Anda) dan memilih melakukan aktivitas yang mendukung goal Anda. Kebebasan berarti Anda mampu mengontrol diri Anda untuk tidak terjebak pada kesenangan sesaat. 

Hanya dengan melakukan kebebasan seperti di atas lah, hidup Anda akan terasa membahagiakan dan memuaskan.

Sumber: aquariuslearning.co.id

Sunday, January 21, 2018

Nomor-nomor Darurat dalam Alkitab

*Nomor Darurat Alkitab*

☎Ketika Anda dlm kesedihan, hub :
Yohanes 14
☎Ketika Anda jatuh dlm dosa, hub :
Mazmur 51
☎Ketika Anda khawatir, hub :
Matius 6 : 19-34
☎Ketika Anda dlm bahaya, hub :
Mazmur 91
☎Ketika Tuhan tampak jauh, hub :
Mazmur 139
☎Ketika iman Anda sedang goyah, hub :
Ibrani 11
☎Ketika Anda kesepian n takut, hub :
Mazmur 23
☎Ketika Anda tumbuh pahit dan kritis, hub :
1 Korintus 13
☎Ketika Anda menginginkan kedamaian dan ketenangan, hub :
Matius 11 : 25-30
☎Ketika dunia tampak lbh besar dr Tuhan, hub :
Mazmur 90
☎Ketika Anda menginginkan jaminan Kristen, hub :
Roma 8 : 1-30
☎Ketika Anda meninggalkan rmh utk bekerja ato bepergian, hub :
Mazmur 121
☎Ketika doa Anda menjd sempit ato egois, hub :
Mazmur 67
☎Ketika Anda menginginkan keberanian utk suatu tugas, hub :
Yosua 1
☎Bagaimana bergaul dgn sesama, hub :
Roma 12
☎Utk kesempatan besar, hub :
Yesaya 55
☎Utk rahasia kebahagiaan, hub :
Kolose 3 : 12-17
☎Utk gagasan tentang ke-Kristenan, hub :
2 Korintus 5 : 15-19
☎Depressed, hub :
Mazmur 27
☎Utk berbuah, hub :
Yohanes 15
☎Jika dompet Anda kosong, hub :
Mazmur 37
☎Menyampaikan kepercayaan pd orang, hub :
1 Korintus 13
☎Jika orang tampak tdk baik, hub :
Yohanes 15
☎Jika berkecil hati tentang pekerjaan Anda, hub :
Mazmur 126

Semoga membantu. Tuhan Yesus memberkati.