Wednesday, April 10, 2019

Saat Kita Memiliki Sahabat

Persahabatan adalah satu jiwa dalam dua raga.Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sedari setelah kita kehilangannya.
Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu di dalam hatimu,
dan, akan menyanyikan kembali tatkala kamu lupa akan bait-baitnya.
Rasa hormat tidak selalu membawa kepada Saat kita memiliki sahabat,
tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain, namun menyesallah jika orang tersebut menyesal bertemu denganmu.

Bersahabat dengan orang yang suka membela kebenaran; Dialah hiasan di kala kamu senang dan perisai di waktu kamu susah.

Lebih baik bersahabat dengan orang Sederhana yang Bersih Fikiran dan Kelakuannya, daripada bersahabat dengan seorang Pandai yang Curang dan Jahat Fikirannya.
Kamu tak akan pernah memiliki seorang sahabat, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan; Kerana semua manusia itu baik jika kamu dapat melihat kebaikannya, dan menyenangkan kalau kamu dapat melihat keunikannya, tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak dapat melihat keduanya.

Punya sahabat baik adalah Mimpi yang di rindukan siapapun,
kerana sahabat baik itu ibarat Emas yang akan Berkilau selamanya.
Sahabat baik bagaikan Jodoh yang boleh bergandingan Selamanya.
Seorang Sahabat itu kadang harus seperti bintang di langit yang tetap kelihatan dan selalu mengawasi kita.
Sahabat baik adalah ibarat jalan yang makin di jalani akan makin terang. Sahabat baik adalah Harta dan Berkat yang tak ada Batasnya.
Sahabat adalah tangan TUHAN untuk menjaga kita.
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
(Amsal 17:17)

Amin

Selamat pagi, selamat beraktiviti, dan selamat berkarya

TUHAN YESUS MEMBERKATI

MENGAPA SALIB, PATUNG DAN GAMBAR SUCI DI GEREJA DISELUBUNGI KAIN UNGU MULAI MINGGU KE 5 PRAPASKAH (MINGGU SENGSARA)?

Hal ini untuk membantu menandakan misteri "Yesus menyembunyikan diri-Nya sendiri"

Patung/lukisan suci di gereja Katolik ditutupi dengan kain ungu mulai dari Vesper pada hari Sabtu malam sebelum Minggu Sengsara ─ (Minggu ke 5 di Masa Prapaskah ─ Dominica de Passione) ─ sampai Gloria dinyanyikan saat Misa Paskah tengah malam (Misa jam 12 malam saat Sabtu Suci).

(Salib-salib dibuka selubungnya pada sore hari Jumat Agung setelah Salib Suci utama di gereja dibuka selubungnya saat penghormatan meriah atas Salib. Stasi-stasi Jalan Salib tidak pernah diselubungi).
Minggu kelima di Masa Prapaskah, juga dikenal sebagai Minggu Sengsara, memulai dua minggu "Masa Sengsara". Minggu pertama disebut Minggu Sengsara, dan minggu kedua disebut Pekan Suci.

Pembacaan Injil secara tradisional saat Minggu Sengsara berfokus pada meningkatnya kebencian terhadap Kristus dari pihak Yahudi. Mereka menuduh Dia menjadi orang Samaria, melakukan sihir, penghujatan, seperti yang dimiliki Setan. Mereka tidak berpikir bahwa Kristus adalah "guru yang baik." Mereka mengira Dia adalah agen Setan.

Bacaan Injil untuk Minggu Sengsara ─ (hari Minggu kelima Prapaskah) ─ diambil dari bab kedelapan Injil Santo Yohanes yang berakhir dengan kata-kata ini:
"Mereka mengambil batu hendak merajam Dia. Tetapi Yesus menyembunyikan diri dan keluar dari Bait Allah." ─ (Yohanes 8:59)

Menurut Santo Agustinus, pada saat ini ketika "Yesus menyembunyikan dirinya," Kristus sebenarnya menjadi TAK TERLIHAT berdasarkan sifat ilahi-Nya.
Santo Agustinus menulis: Dia tidak menyembunyikan diri di sudut Bait Allah, seolah ketakutan, atau berlari ke bangunan, atau berbelok ke belakang dinding atau kolom: tapi oleh Kuasa Ilahi-Nya membuat diri-Nya sendiri tidak terlihat, Dia berlalu dari tengah-tengah mereka.

Saat ini banyak Gereja Katolik modern yang terpengaruh oleh Protestantisme tidak lagi mengikuti tradisi menyelubungi Salib/patung/gambar suci.

Sesungguhnya Salib-salib seharusnya terselubung mulai Minggu kelima Prapaskah sampai Jumat Agung. Jika Salib tidak terselubung, lalu apa gunanya penyingkapan selubung Salib pada hari Jumat Agung?

MENJADI MANUSIA HEBAT

Amsal 14:29 “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Untuk menjadi manusia yang hebat tidaklah mudah. Manusia kerap menyalah artikan kata “hebat” itu sendiri. Pikiran mereka mulai fokus untuk bekerja keras dan meraih semua yang terbaik.

Manusia seperti ini hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Karya tangannya memang sempurna, namun hatinya penuh dengan kecacatan.

Manusia yang hebat adalah mereka yang mampu mengendalikan diri & penguasaan diri. Bila kita ingin menjadi hebat, maka kita harus bisa menyeimbangkan antara impian diri sendiri dan impian orang lain.

Jangan sampai keinginan kita melukai orang lain. Jangan hanya karena mengejar impian, kita melupakan orang-orang di sekitar kita.

Keluarga kita juga mempunyai impian, mungkin sangat sederhana yaitu agar kita bisa mengasihi mereka.

Jadilah hebat dengan mengendalikan amarah, penuhilah hati dengan pengampunan. Jadilah hebat saat orang-orang berebut untuk mempermalukan kita, tenangkan hati di dalam doa. Di dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita dan kita dapat berdoa. Jadilah hebat saat mereka meremehkan kita, tersenyumlah terhadap apa yang mereka katakan.

”Jangan pernah berhenti untuk bersabar saat cobaan selalu menghampiri, hadapi semua dengan mengucap syukur.”

Tetap semangat dlm Tuhan Yesus Kristus, terus berjuang dan Tuhan mengasihi selalu.

JANGAN MENGERASKAN HATIMU

(Yohanes 8 : 51-59)

Hati orang Yahudi sungguh membatu sehingga terus hidup menurut tingkah laku Iblis sehingga firman Tuhan tidak pernah ada di dalam hati mereka

Mereka bukan hanya menutup hati terhadap Yesus, tetapi juga melancarkan dua tuduhan baru

Pertama, Yesus adalah orang Samaria (48). Ini merupakan tuduhan yang bersifat rasis karena orang Yahudi membenci dan menganggap orang Samaria sebagai blasteran

Kedua, Yesus telah kerasukan setan (48, 52), karena dianggap suka menyampaikan perkataan yang tidak masuk akal dan tidak sesuai fakta

Tuduhan kerasukan setan muncul (48) karena Yesus menyatakan bahwa mereka bukan anak-anak Abraham, melainkan anak-anak Iblis (44-47). Tuduhan itu muncul juga karena Yesus menawarkan hidup kekal kepada mereka yang mau percaya padahal menurut mereka

Abraham dan para nabi yang percaya dan taat firman Allah tetap mati. Dengan demikian, mereka menganggap Yesus telah menempatkan diri-Nya jauh lebih besar daripada mereka semua.

Menjawab tuduhan itu, Yesus kembali menegaskan hubungan-Nya dengan Bapa: Dia memuliakan Bapa, tetapi mereka tidak memuliakan Dia dan Bapa yang mengutus-Nya.

Yesus tidak mencari kemuliaan bagi diri-Nya karena hanya Bapa yang patut dimuliakan dan akan memuliakan Dia. Bapa yang demikian tidak mereka kenal, tetapi Yesus kenal dan hidup sesuai firman-Nya

Dalam hal ini, Abraham bersukacita karena akan dan telah menyaksikan kedatangan Yesus yang jauh lebih besar daripada dirinya. Karena sebelum Abraham ada di dunia, Yesus telah ada, bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan dan tidak pernah ada sesaat pun Dia tidak ada

Namun sebagai keturunan Abraham, mereka tetap tidak percaya karena sejak awal mereka menolak Dia, bahkan ingin melempari-Nya dengan batu

Banyak orang yang terus menolak serta menyerang Yesus dan berita Injil karena mereka terus mengeraskan hati

Adakah kita prihatin atas sikap mereka? Doakanlah agar kasih karunia Tuhan menjamah mereka

Membangun Cinta Dalam Pernikahan

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?

Bukan...
Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap...
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?
Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Mau punya teman hidup ?
Jatuh cintalah....
Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta...Jagalah KOMITMEN awal.

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.

3. KETIKA MENIKAH
Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan TUHAN.

4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.

5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK
Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak2x Anda masing2x 100%.

7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja2x kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.

8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

9.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.

10.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

11.KETIKA ADA 'PIL/ Pria Idaman lain.
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

12.KETIKA ADA 'WIL/ Wanita Idaman lain.
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS
GUNAKANLAH FORMULA 7K

a.Ketakutan akan Tuhan
b.Kasih sayang
c.Kesetiaan
d.Komunikasi dialogis
e.Keterbukaan
f.Kejujuran
g.Kesabaran

Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau TUHAN sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti IA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan TUHAN dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI "CARA" KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.

Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,
Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.
Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.

Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.
Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.
Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.
Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat !!
Better me = Better we.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan suami :
A. Tidak perhatikan perasaan istri.
Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan istri :
A. Memberi petunjuk tanpa diminta.
Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.
B. Mengeluhkan suami d¡ hadapan orang lain.
C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga,
milikiLah komitmen2x ini :
1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:

1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)

2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)

3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)

4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)

5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)

6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)

7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)

8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)

9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)

10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Kidung Agung 8:7 "Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta. Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina."

Konfliks dan perselisihan menggerus cinta perlahan-lahan seperti abrasi mengikis pantai.

Waktu atas sebuah pernikahan membuat cinta menjadi pudar, padahal asal muasal cinta begitu kuat tak terpadamkan, cinta sejati tidak bisa dibayar dengan harta benda.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita " I LOVE YOU " biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Kenapa kita disatukan dengan pasangan kita, agar kita saling melengkapi.

Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita.

Ketahuilah! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan pasangan yang memiliki pikiran yang sama.

Ketika kita bangun pagi ini pandang pasangan kita lalu katakan "saya membutuhkan kamu tanpa kamu hidup jadi tidak sempurna"

Lalu mulailah merangkai perbedaan perbedaan dengan pasangan kita agar menjadi satu sehingga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.

Percayalah ! Mulai saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang diberkati TUHAN.

Tuhan Yesus memberkati 😊😇

SIFAT & CIRI GEREJA KRISTUS

KATKIT (Katekese Sedikit) No. 225

Seri Katekismus
SIFAT & CIRI GEREJA KRISTUS

Syalom aleikhem.
Bagaikan roh kita untuk badan kita, seperti itulah Roh Kudus bagi Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Roh Kudus menghidupkan dan menjadikan Gereja “kanisah”. Kanisah itu bait suci, maka Gereja adalah bait suci Roh Kudus. Karena itu, di mana ada Gereja, di situ ada Roh Allah.

Roh itu menganugerahkan aneka ragam karunia khusus yang disebut karisma kepada Umat Allah untuk berbagai karya atau tugas. Semua karisma digunakan untuk membangun Gereja, maksudnya melayani kesejahteraan manusia dan kebutuhan dunia. Siapa yang menerima karisma wajib menghormati para gembala Gereja yang dipilih Allah untuk mempertahankan apa yang baik.

Sifat & Ciri

Itulah – sudah dipaparkan sejak beberapa edisi lalu – Gereja Kristus. Dalam ikrar iman kita atawa Syahadat a.k.a. Kredo, Gereja Kristus itu kita akui, kita sebut Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Inilah keempat sifat Gereja. Keempatnya tak dapat diceraikan satu sama lain, keempatnya melukiskan ciri-ciri hakikat Gereja. In short, keempatnya adalah sifat sekaligus ciri Gereja untuk menilai seperti apakah Gereja Kristus itu.

Dari manakah asal sifat-sifat itu? Dari Allah sendiri. Umat Allah mencerap dan menerimanya melalui sejarah dan mengindahkannya sebagai tanda yang jelas bagi Gereja Kristus.

Gereja itu satu. Apanya yang satu? Ada tiga hal: (1) asalnya, (2) pendirinya, (3) jiwanya. Gereja itu menurut asalnya adalah dari Allah. Gereja satu menurut pendirinya, yaitu Kristus. Dan jiwanya adalah Roh Kudus yang menciptakan persekutuan dan menjadi pemersatu. Roh Kudus roh pemersatu, bukan roh pemecah-belah. Demikianlah kalau dikatakan Gereja itu satu.

Gereja itu satu juga karena adanya ikatan kesatuan. Apakah sajakah ikatan itu? Ada tiga hal: (1) ikrar iman, (2) ibadat, (3) suksesi. Apa maksudnya? Ikrar iman adalah pengakuan iman yang satu dan sama sebagaimana diwariskan oleh Para Rasul. Iman kita kini adalah iman yang mengikuti iman Para Rasul dulu, bukan iman hasil ciptaan satu-dua orang tertentu.

Ikatan kedua adalah ibadat. Gereja yang satu itu satu dalam perayaan ibadat, terutama dalam sakramen-sakramen. Ada tujuh sakramen dalam Gereja Kristus. Di manapun di seluruh dunia, ketujuhnya dijunjung sebagai sakramen-sakramen suci tanpa terkecuali.

Ikatan ketiga adalah suksesi apostolik, artinya Gereja yang satu digembalakan oleh pemimpin yang sah diangkat dengan Sakramen Tahbisan yang tidak terputus mata rantainya sejak para Rasul, bukan oleh (orang yang mengaku) pemimpin yang mengangkat dirinya sendiri atas dasar mandat atau wangsit entah dari mana.

** Ringkasan atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 797 – 815

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring (imeliba@yahoo.co.id)

Monday, February 26, 2018

KETIKA AGAMA KEHILANGAN TUHAN

Puisi K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Dulu agama menghancurkan berhala.
Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.
Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama.
Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.
Lalu yang berubah apanya?
Manusia nya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya.
Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya,yg paling cerdas di antara orang2 lainnya,
Sekarang orang yg paling dungu yg tidak bisa bersaing dengan orang2 lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian.
Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, krn diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan.
Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan2 agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari wajah Tuhan.
Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan.
Agama kini hanya komoditi yg menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yg berbau agama telah didewa-dewakan,tak kan pernah dianggap salah,tak pernah ditolak,dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.

Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diper-Tuhan-kan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan.
Agama dulu memuja Tuhan.
Agama kini menghujat Tuhan.

Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang2 yg merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yg mengajarkan tuk membenci?

Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya.
Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam2 dibalik gundukan ayat2 dan
aturan agama.

Thursday, February 8, 2018

Kebebasan VS Dorongan Biologis



Bagi banyak orang, kebahagiaan hidup dapat tercapai manakala mereka memiliki kebebasan. Mereka beralasan, kebebasan memberikan mereka ruang untuk berkreasi, menjadi diri sendiri, dan ruang untuk menempa keberanian.

Well, penulis setuju dengan pendapat seperti itu. Kebebasan memang dapat memberikan ruang bagi kreativitas. Selain itu, kebebasan juga memberikan kesempatan bagi kita untuk menjadi diri sendiri dan menempa keberanian.

Namun demikian, banyak sekali yang menyalahartikan kebebasan. Banyak orang yang menyalahartikan kebebasan sebagai bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin dalam hidup.
Akibat penyalahartian ini, banyak orang yang menjalani hidup secara bebas: bangun tidur semaunya; bebas melakukan apa pun yang ia inginkan; bebas memaki orang sekasar-kasaranya; mengonsumsi makanan semaunya.

Tentu saja, bebas dalam artian seperti itu tidak membawa kebaikan dan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, kebebasan yang seperti itu justru membawa kesengsaraan dan ketidakpuasan dalam hidup.

Mengapa?
Bayangkan saja, Anda memiliki prinsip hidup bebas sebebas-bebasnya. Menurut Anda, hanya dengan begitu, hidup Anda menjadi bahagia dan puas. Karena prinsip itu, Anda pun enggan menerapkan disiplin dalam hidup Anda sendiri. Anda mengharamkan aturan dan disiplin dalam hidup Anda. Walhasil, Anda tidur dan bangun sesuka Anda; Anda makan seturut nafsu Anda; Anda mandi hanya ketika Anda ingin mandi; Anda membaca buku seseuai mood Anda.

Jika sudah begitu, maka tidak menutup kemungkinan hidup Anda jadi kacau!

Bagaimana tidak? Ketika Anda mengonsumsi makanan semau-mau Anda, Anda tidak mempertimbangkan segi manfaat dan mudaratnya bagi tubuh Anda. Apa pun Anda lahap apabila Anda memang menginginkannya. Ketika Anda ingin makan makanan yang tidak sehat, Anda langsung menyantapnya tanpa memikirkan dampak negatifnya bagi Anda; Ketika terbersit keinginan untuk merokok, Anda pun lantas menyulut sebanyak yang Anda mau; Ketika ingin minuman keras, Anda lantas meneguk sebanyak yang Anda inginkan.

Hasilnya, Anda terjangkit penyakit yang tidak Anda harapkan.

Demikian juga ketika Anda melakukan apa pun semau Anda. Ketika Anda ingin begadang, Anda pun menuruti keinginan itu; Ketika belum ingin bangun, Anda pun tidak segera beranjak dari tempat tidur; Ketika tidak ingin mandi, Anda pun menurutinya.

Walhasil, Anda tidak bisa mencurahkan 100% waktu Anda untuk mencapai goal-goal Anda. Bagaimana Anda mencurahkan waktu untuk meraih goal Anda jika Anda malah sibuk tidur? Bagaimana Anda mencurahkan waktu Anda untuk mencapai cita-cita Anda jika Anda malah sibuk bermain game?

Demikian logikanya.
Nah, sampai di sini, kita tahu bahwa kebebasan memang dapat membuat kita bahagia. Tetapi, kebebasan itu bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan disiplin hidup.
Jika demikian, lantas apa arti kebebasan yang sesungguhnya? Kebebasan yang bagaimana yang dapat membuat hidup Anda bahagia?

Jawabannya, kebebasan di mana Anda bebas menentukan hidup Anda sendiri, tetapi kebebasan itu disertai KESADARAN mengenai KONSEKUENSI dari pilihan hidup Anda. Singkatnya, kebebasan yang BERTANGGUNG JAWAB!

Tetapi, apa maksud kebebasan yang bertanggung jawab?

Maksudnya, tidak ada yang memaksa dan mengatur Anda untuk melakukan sesuatu: Tidak ada yang memaksa Anda untuk bangun jam 5 pagi setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda mengonsumsi makanan sehat; Tidak ada yang memaksa Anda membaca buku setiap hari; Tidak ada yang memaksa Anda untuk tidak begadang. Namun, Anda sendiri tergugah untuk melakukannya karena Anda SADAR KONSEKUENSInya bagi hidup Anda. Anda bebas menentukan jalan hidup Anda, tetapi Anda menyikapi kebebasan itu SECARA DEWASA.

Dengan kebebasan yang seperti itu, terbuka lebar ruang untuk berkreativitas, mengembangkan diri, dan menjadi diri sendiri. Selain itu, dengan kebebasan yang seperti itu, Anda dapat mengonsentrasikan waktu dan perhatian Anda untuk meraih goal-goal Anda. Kebebasan yang seperti itu tidak menghalangi Anda untuk hidup disiplin demi meraih goal Anda.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, kalau gitu, sama aja boong. Hidup bebas kok disiplin, banyak aturan! Hidup bebas, ya, bebas ngapa-ngapain. Ga ada aturan dan larangan. Lagipula, aturan itu kan bikin kita jadi robot!”

Hmm, untuk menjawab sanggahan seperti itu, penulis memiliki penjelasan yang mengejutkan tentang kebebasan.


Penasaran?
Yuk, langsung simak uraiannya berikut ini.

Kebebasan dan Dorongan Biologis

Dalam hidup, kita dihadapkan pada berbagai pilihan, baik yang mendukung goal kita atau pun yang menghambat kita meraih goal.

Sebagai contoh, dalam hidup, Anda berkeinginan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang.
Dan, Anda sadar, untuk berkembang, Anda perlu terus belajar, menjadi pembelajar seumur hidup. Itu artinya, Anda harus meluangkan waktu untuk belajar.

Berhubung Anda sudah dewasa, tidak ada yang memberlakukan aturan hidup bagi Anda. Tidak ada yang mewajibkan Anda hidup disiplin sedemikian sehingga ada waktu untuk belajar. Sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan jalan hidup Anda sendiri.

Di hadapan Anda, terdapat berbagai pilihan, di mana, sebagai orang dewasa, Anda bebas menentukan yang mana yang akan Anda pilih. Pilihan yang tersedia mulai dari TV, buku, tidur, game, dan bersenang-senang. Anda bebas menentukan pilihan Anda. Tetapi, untuk meraih goal Anda (menjadi pembelajar), Anda perlu memilih pilihan yang tepat yang mendukung goal tersebut. Anda HARUS memilih buku dan mengesampingkan TV, game, dan kesenangan.

“Lhah, saya, kan, bebas. Saya bebas memilih pilihan sesuka hati saya, dong. Dan, saya lebih suka main game daripada baca buku. Jadi, saya pilih main game,” mungkin demikian sanggah Anda.
Yup! Tidak diragukan Anda bebas untuk memilih bermain game atau membaca buku. Tetapi, berhubung goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, maka Anda perlu memilih membaca buku. Anda bahkan wajib.

Bagaimana jika Anda memilih bermain game yang memang merupakan HOBI Anda?


Tentu saja Anda BEBAS memilih bermain game. Tetapi, kebebasan itu merupakan kebebasan yang SEMU! Apabila goal Anda adalah menjadi pembelajar seumur hidup, sementara Anda lebih GEMAR game dan karenanya Anda memilih game, sebenarnya, Anda justru tidak bebas!

Kok bisa?
Anda terjebak pada dorongan biologis Anda! (kesenangan, seperti bermain game, merupakan dorongan biologis). Anda terkekang olehnya. Pihak yang menentukan jalan hidup Anda bukanlah diri Anda sendiri, melainkan dorongan biologis Anda. Anda mengijinkan dorongan itu menjadi tuan bagi kehidupan Anda! Kebebasan Anda dirampas oleh dorongan tersebut.

Sampai di sini, apa yang dapat Anda tangkap?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan kesenangan. Salah satu dorongan alamiah manusia yaitu lebih menyukai aktivitas rekreasional/kesenangan daripada aktivitas kerja. Manusia yang bebas adalah manusia yang dapat membebaskan diri dari dorongan alamiahnya. Sebagai contoh, ia dapat memebebaskan diri dari dorongan untuk bermain game/melakukan kesenangan dan memilih untuk melakukan aktivitas kerja seperti membaca buku. Manakala ia masih terjebak pada dorongan alamiah, maka dapat dikatakan, kebebasannya ditentukan oleh dorongan tersebut, bukan oleh KEHENDAKnya sendiri. Atau, dalam kata lain, ia tidak bebas.

Mungkin, Anda akan berkata begini, “Ah, masa, sih? Saya merasa bebas kok memilih bersenang-senang daripada melakukan kerja keras.”

Yup! Memilih melakukan dorongan alamiah daripada melakukan aktivitas kerja yang dapat menuntun Anda meraih goal sekilas terasa menyenangkan. Anda merasakan sensasi kebebasan ketika memilih bermain game daripada membaca buku (jika goal Anda adalah menjadi pembelajar).

Tetapi, mau tidak mau, Anda harus menerima konsekuensinya. Memilih bermain game daripada membaca buku membawa konsekuensi negatif bagi Anda: wawasan Anda kurang, Anda ketinggalan informasi, ilmu Anda tidak bertambah.

Nah, awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal! Niscaya, Anda merasa tidak puas dengan hidup Anda.

Contoh lainnya bagaimana?
Contoh lainnya, Anda memiliki goal mengecilkan badan. Ceritanya, ukuran baju Anda sekarang double XL. Dan, Anda ingin mengecilkan badan Anda hingga baju berukuran M muat di badan Anda.

Untuk meraih goal itu (mengecilkan badan), Anda perlu mengontrol pola makan Anda. Anda perlu menyetop kebiasaan ngemil Anda. Nah, suatu hari, Anda diundang di pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, banyak sekali makanan yang lezat, yang menggugah selera Anda. Setelah berusaha menahan diri, akhirnya Anda tidak tahan. Anda mengambil satu di antara makanan lezat itu dan menyantapnya. Dan, Anda pun merasakan sensasi kebebasan! Anda merasa diri Anda terbebas dari aturan diet yang menyiksa.

Tetapi, sebenarnya, Anda justru tidak bebas! Dengan menyantap makanan itu, sejatinya Anda terbelenggu oleh dorongan biologis Anda. Pada awalnya, Anda boleh merasakan sensasi kebebasan. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda menyesal!

“Tapi, kan, jika saya memilih menahan diri, artinya saya tidak bebas?!” demikian sanggah Anda.
Hmm, untuk menjawabnya, mari kita simak penjelasan berikut.

Arti Kebebasan yang Sebenarnya

Pada bab sebelumnya, dipaparkan sebuah ilustrasi yang menggambarkan Anda sedang dalam proses diet. Dalam ilustrasi itu, ceritanya, Anda sedang menghadiri pesta pernikahan teman Anda. Di pesta itu, terdapat banyak sekali makanan yang menggugah selera. Dan, Anda bebas menyantapnya.
Melihat makanan-makanan itu, Anda pun tergoda. Awalnya Anda bimbang antara menyantapnya atau menahan godaan itu. Tetapi, setelah menimbang-nimbang, Anda pun akhirnya memutuskan untuk mengambil satu dan melahapnya.

Nah, bagaimana jika Anda bersikeras menahan godaan itu? Bagaimana jika Anda tetap berpegang teguh pada aturan diet yang melarang Anda untuk menyantap makanan itu? Apakah itu artinya Anda tidak bebas?
Jawabannya, sebaliknya! Anda justru bebas!

Kok bisa?
Dengan tetap berpegang teguh pada aturan diet, Anda memilih melakukan KEHENDAK Anda daripada melakukan dorongan biologis Anda. Anda BEBAS dari dorongan biologis Anda. Kehendak Anda tidak tunduk pada dorongan itu.

Nah, sampai di sini, apa yang dapat Anda pahami?
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan dorongan biologis, melainkan bebas melakukan KEHENDAK Anda. Kehendak ini berbeda dari dorongan biologis. Apabila Anda sedang diet, maka kehendak Anda adalah menahan godaan diet. Sementara itu, dorongan biologis Anda adalah menyantap makanan kesukaan Anda. Anda dapat dikatakan bebas apabila Anda mampu melakukan kehendak Anda (berdiet) dan menjauhi dorongan biologis. Sebaliknya, Anda dikatakan tebelenggu manakala Anda memilih melakukan dorongan biologis Anda (menyantap makanan kesukaan Anda).
Mungkin, Anda bertanya begini: “Bukankah mengikuti aturan diet berarti tidak bebas? Kan, Saya malah terbelenggu sama aturan itu?”

Yup! Ketika mengikuti aturan diet, ada sensasi terbelenggu dalam diri Anda. Kebebasan untuk menyantap makanan sesuka Anda lenyap. Tetapi, ketika tiba pada konsekuensinya, niscaya Anda akan berpikir sebaliknya.

Awalnya, Anda boleh merasa terkekang ketika Anda melakukan aturan diet. Tetapi, ketika Anda berhasil mengecilkan badan Anda, maka Anda pun merasa senang dan puas. Anda puas usaha Anda berhasil. Dan, selain kepuasan, Anda diliputi rasa merdeka dan bebas. Anda niscaya merasa merdeka dan menang dari dorongan biologis yang dulu menggoda Anda.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, apa yang dapat Anda simpulkan?

Kebebasan bukanlah berarti bebas memilih melakukan apa pun yang Anda inginkan. Kebebasan terkait dengan TUJUAN/GOAL Anda.

Anda dikatakan bebas manakala Anda mampu menahan dorongan biologis Anda apabila dorongan biologis itu tidak sesuai atau bertentangan dengan goal Anda. Dan, sebaliknya, Anda memilih untuk melakukan aktivitas yang mampu mengantarkan Anda pada goal tersebut, sekali pun aktivitas itu berat dilakukan.

Kebebasan berarti Anda mampu mengesampingkan dorongan biologis Anda (apabila dorongan biologis itu bertentangan dengan goal Anda) dan memilih melakukan aktivitas yang mendukung goal Anda. Kebebasan berarti Anda mampu mengontrol diri Anda untuk tidak terjebak pada kesenangan sesaat. 

Hanya dengan melakukan kebebasan seperti di atas lah, hidup Anda akan terasa membahagiakan dan memuaskan.

Sumber: aquariuslearning.co.id

Sunday, January 21, 2018

Nomor-nomor Darurat dalam Alkitab

*Nomor Darurat Alkitab*

☎Ketika Anda dlm kesedihan, hub :
Yohanes 14
☎Ketika Anda jatuh dlm dosa, hub :
Mazmur 51
☎Ketika Anda khawatir, hub :
Matius 6 : 19-34
☎Ketika Anda dlm bahaya, hub :
Mazmur 91
☎Ketika Tuhan tampak jauh, hub :
Mazmur 139
☎Ketika iman Anda sedang goyah, hub :
Ibrani 11
☎Ketika Anda kesepian n takut, hub :
Mazmur 23
☎Ketika Anda tumbuh pahit dan kritis, hub :
1 Korintus 13
☎Ketika Anda menginginkan kedamaian dan ketenangan, hub :
Matius 11 : 25-30
☎Ketika dunia tampak lbh besar dr Tuhan, hub :
Mazmur 90
☎Ketika Anda menginginkan jaminan Kristen, hub :
Roma 8 : 1-30
☎Ketika Anda meninggalkan rmh utk bekerja ato bepergian, hub :
Mazmur 121
☎Ketika doa Anda menjd sempit ato egois, hub :
Mazmur 67
☎Ketika Anda menginginkan keberanian utk suatu tugas, hub :
Yosua 1
☎Bagaimana bergaul dgn sesama, hub :
Roma 12
☎Utk kesempatan besar, hub :
Yesaya 55
☎Utk rahasia kebahagiaan, hub :
Kolose 3 : 12-17
☎Utk gagasan tentang ke-Kristenan, hub :
2 Korintus 5 : 15-19
☎Depressed, hub :
Mazmur 27
☎Utk berbuah, hub :
Yohanes 15
☎Jika dompet Anda kosong, hub :
Mazmur 37
☎Menyampaikan kepercayaan pd orang, hub :
1 Korintus 13
☎Jika orang tampak tdk baik, hub :
Yohanes 15
☎Jika berkecil hati tentang pekerjaan Anda, hub :
Mazmur 126

Semoga membantu. Tuhan Yesus memberkati.

Friday, November 24, 2017

6 TIPS MENGAJARKAN ANAK-ANAK UNTUK BERDOA

Mengajarkan anak-anak untuk berdoa adalah bagian penting untuk mengenalkan mereka Yesus Kristus dan memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan.

Lalu, bagaimana cara yang nyaman mengajarkan anak-anak untuk berdoa dan membantu mereka memahami Tuhan? Berikut ini tipsnya:

1. Kapan harus mulai mengajarkan doa kepada anak-anak?
Anak-anak bisa mulai belajar berdoa bahkan sebelum mereka bisa berbicara lancar dan jelas. Balita bisa diajarkan berdoa baik dengan kata maupun sikap dalam doa. Latihan bisa dimulai dengan membantu anak-anak untuk membuat Tanda Salib dengan benar.

Kebiasaan baik ini harus terus dilakukan aagr anak-anak semakin nyaman dalam berdoa. Ini juga untuk memperkuat doa sebagai bagian rutin kehidupan sedini mungkin bagi mereka.

2. Ajarkan doa sebagai sebuah percakapan
Ajarkan kepada anak-anak bahwa doa itu seperti sebuah percakapan. Kita berbicara dengan Tuhan, mengucap syukur kepada Dia yang memberikan kita makanan yang cukup setiap hari, pakaian juga orang tua dan saudara.

Ajarkan anak-anak untuk berdoa dengan kata-kata mereka sendiri, untuk selalu bersyukur dan memohon kepada Tuhan sumber kehidupan.

Pada anak-anak yang sudah bisa berbicara dengan baik, ajarkan doa Salam Maria dan Bapa Kami. Apresiasi jika mereka bisa berdoa Salam Maria, Bapa Kami bahkan Tanda Salib dengan benar. Tumbuhkan semangat doa dalam diri anak-anak sejak kecil.

3. Orang tua harus jadi teladan. Biarkan anak-anak melihat cara kalian berdoa
Anak-anak pada fase pertumbuhan banyak belajar meniru. Mereka belajar untuk berbicara, makan, dll. Pada fase ini, orang tua harus benar-benar menjadi teladan yang baik bagi pertumbuhan sang anak.

Cara terbaik untuk mendidik anak-anak tentang doa adalah mulailah berdoa di depan mereka. Ajarkan mereka sikap yang sopan saat berdoa, seperti tangan yang terkatup atau mata yang tertutup.

Orang tua bisa mengajak anak untuk berdoa pada hal-hal sederhana, seperti sebelum dan sesudah makan, saat bakan tidur dan setelah bangun pagi. Biasakan mereka untuk mengikut orang tua sebagai teladan dalam berdoa sehingga anak-anak lebih dekat kepada Tuhan dan pandai bersyukur.

4. Agar anak bisa berdoa
Ajarkan kepada anak-anak bagaimana berdoa kepada Tuhan. Mereka bisa berdoa bagi hewan peliharaan mereka, bagi teman mereka yang berulang tahun atau juga bagi orang tua, saudara, kakek-nenek, keluarga dan guru di sekolah. Tunjukkan pada mereka bahwa tidak ada batas waktu untuk berdoa. Dia bisa berdoa kapan saja dan dimana saja.

Beritahu anak-anak untuk memulai doa dengan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan sebagai ucapan syukur. Minta ampun juga kepada Tuhan untuk semua kesalahan hari ini. Mereka juga bias meminta pertolongan Tuhan melalui doa mereka.

Saat anak berdoa, misalnya berdoa Salam Maria dan masih terbata-bata, dia lupa beberapa bagian kata, bantu lengkapi dan biarkan anak melanjutkan sendiri saat dia kembali lancar berdoa.

5. Mengatasi rasa malu pada anak-anak
Beberapa anak mungkin terlihat malu untuk mulai belajar berdoa. Hadapi dengan sikap sabar dan tunjukkan dengan teladan. Selalu ajak anak untuk terlibat berdoa bersama dalam keluarga.

Cara lainnya, orang tua bisa memulai doa dan memancing anak untuk ikut berdoa, seperti bertanya kepadanya tentng apa yang akan anak doakan kepada gurunya, atau temannya juga kakek-neneknya. Selalu berikan apresiasi saat anak bisa mengucapkan doanya sendiri.

6. Jadilah pendukung
Selalu ajarkan kepada anak-anak untuk mengandalkan Tuhan baik dalam suka mapun duka. Ajarkan kepada mereka bahwa kita datang ke Tuhan dengan berbagai hal dan tidak ada permintaan yang terlalu kecil atau tidak penting di hadapan Tuhan.

Doa sangat pribadi dan kekhawatiran anak akan berubah sesuai usia yang berbeda. Dukunglah selalu anak untuk berbicara dengan Tuhan dan selalu bersyukur kepada-Nya.

Temani sang anak berdoa sebelum tidur dan saat bangun pagi. Ajarkan anak untuk selalu bersyukur dan meminta perlindungan Tuhan sebelum dan sesudah beraktivitas.

Tuesday, October 31, 2017

KATEKESE BULAN ROSARIO: PENGHORMATAN ISTIMEWA KEPADA BUNDA MARIA

Karena Bunda Maria adalah manusia biasa, bukankah kita tidak perlu menghormatinya secara istimewa?

Bunda Maria memang adalah manusia biasa. Namun, meskipun manusia biasa,  Bunda Maria adalah pribadi yang istimewa, sebab ia bekerja sama dengan rahmat Tuhan untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Jadi, Bunda Maria dipilih menjadi ibu Tuhan bukan karena jasanya, tetapi pertama- tama karena kehendak dan rahmat Tuhan, yang kemudian ditanggapi oleh Bunda Maria dengan ketaatannya, sehingga Kristus Sang Penyelamat dapat lahir sebagai manusia di dunia. Teladan ketaatan Bunda Maria, yang membuat rencana Allah terhadap seluruh umat manusia dapat terlaksana, itulah yang menjadikan Bunda Maria sebagai seorang yang istimewa dan patut kita hormati.

Bunda Maria dipilih Allah untuk mengandung di dalam rahimnya, Yesus Kristus, yang di dalam-Nya tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Ke-eratan hubungan antara Allah dan manusia yang sedemikian, tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satupun nabi ataupun tokoh dalam Kitab Suci yang pernah mengandung ‘kepenuhan ke-Allahan’ seperti yang terjadi pada Bunda Maria. Allah mengutus Kristus Putera-Nya dengan mempersiapkan tubuh bagi-Nya (lih. Ibr 10:5). Untuk itu, diperlukan kerjasama yang melibatkan kehendak bebas seorang perempuan -yaitu Perawan Maria- untuk mewujudkan rencana Allah itu, sehingga tanpa benih laki-laki namun oleh kuasa Roh Kudus, Tuhan Yesus dapat menjelma menjadi manusia. Dengan ketaatannya menerima Sabda Allah dalam Kabar Gembira malaikat, Perawan Maria menerima Sang Sabda itu di dalam hatinya dan di dalam tubuhnya, sehingga dengan demikian, ia memberikan Sang Sabda kepada dunia. Persatuan yang erat antara Perawan Maria dengan Kristus Sang Sabda Allah menjadikannya layak dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus.

Dengan perannya sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, Sang Putera Allah yang Tunggal yang menjelma menjadi manusia, Bunda Maria menempati tempat yang istimewa dalam sejarah keselamatan. Jadi jika umat Katolik menghormati Maria secara istimewa dibandingkan dengan para orang kudus lainnya, itu disebabkan karena: Allah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya menjadi Bunda Putera-Nya dan telah memenuhinya dengan rahmat agar ia dapat mengemban tugas yang mulia itu (lih. Luk 1:28,35,43);  serta karena Maria telah diberikan oleh Kristus untuk menjadi Bunda umat beriman (lih. Yoh 19:26-27). Sudah seharusnya, kita lebih menghormati ibu kita sendiri di antara semua perempuan di dunia; demikian juga adalah layak jika kita lebih menghormati Bunda Maria di antara semua orang kudus dan tokoh manusia lainnya dalam Kitab Suci. Namun demikian, penghormatan kepada Maria tidak pernah melebihi penghormatan kita terhadap Tuhan.

Dasar Kitab Suci:
Luk 1:28: Salam Maria, penuh rahmat
Luk 1:35: Roh Kudus menaungi Maria, sebab itu Anak yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah
Luk 1:43: Maria adalah ibu Tuhan
Yoh 19:26-27: Maria diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi ibu bagi murid- murid-Nya
Gal 4:4: Tuhan mengutus Putera-Nya, untuk dilahirkan oleh seorang perempuan

Dasar Magisterium Gereja:
Konsili Vatikan II (1962-1965), Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium (LG):
“Sebab Perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya. Karena pahala Putera-Nya, dan dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan, ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun demikian, sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia memang Bunda para anggota Kristus… karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghormatinya dengan penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta. (LG, 53)

Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk kita renungkan. Ada pun Kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan sejarah keselamatan, yang lambat laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia. Naskah-naskah kuno itu, sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam terang pewahyuan lebih lanjut yang penuh, langkah demi langkah makin jelas mengutarakan citra seorang perempuan itu, Bunda Penebus. Dalam terang itu ia sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur kita yang pertama, yang jatuh berdosa (lih. Kej 3:15). Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23). Dialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-Nya. Dengan dia, sang Puteri Sion yang amat mulia, dan setelah masa penantian yang panjang, genaplah masanya,  dan mulailah tata keselamatan yang baru, ketika Putera Allah mengenakan kodrat manusia daripadanya, untuk membebaskan manusia dari dosa melalui rahasia-rahasia hidup-Nya dalam daging (LG, 55).

Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun, seorang perempuanlah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Sang Hidup itu sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah dianugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka tidak mengherankan, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus. Perawan dari Nasaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang istimewa. Atas titah Allah ia diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:28). Kepada utusan dari sorga itu ia menjawab: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada Pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama St.Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya”. Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (LG, 56).

Katekismus Gereja Katolik 484, 488, 490:
KGK 484        Pewartaan kepada Maria membuka “kegenapan waktu” (Gal 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Jawaban ilahi atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34) menunjukkan kekuasaan Roh: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

KGK 488        “Tuhan telah mengutus Putera-Nya” (Gal 4:4). Tetapi supaya menyediakan “tubuh bagi-Nya” (Ibr 10:5), menurut kehendak-Nya haruslah satu makhluk bekerja sama dalam kebebasan. Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea, seorang perawan, yang “bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud: nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun seorang  perempuanlah yang mendatangkan kehidupan” (LG 56, Bdk. LG 61).

KGK 490        Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, “maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur” (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai “penuh rahmat” (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

Sumber: katolisitas.org

Monday, October 30, 2017

Doa Indulgensi

Mulai 1 November  doakan anggota keluarga yg sudah wafat supaya mendapat indulgensi penuh. Harus berdoa mulai hari  (1 Nov) sampe tgl 8 Nov. (Kasih tau keluarga lain).. Jangan lowong.

Doanya:

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin.

Bapa yang maharahim, percaya akan kasih-Mu yang tanpa batas, bersama seluruh Gereja-Mu, pada hari ini kami mohon dengan sangat lepaskanlah ... (nama2 yg didoakan.)
dari segala hukuman atas dosa-dosa mereka. Perkenankan mereka semua memasuki hidup abadi yang terang dan bahagia di Surga mulia, dan perkenankan mereka memandang kemuliaan cahaya wajah-Mu. Ini semua kami mohon di dalam Kristus Putra-Mu dan pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Aku percaya .... (1X)
Bapa Kami ... (1 X)

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin.

Menjadi Bahagia

::: Homili dari Sri Paus Franciskus :::
*di terjemahkan oleh Rm. Ignatius Ismartono,SJ

Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tidak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini.
Hanya engkau yg sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak org membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu. ��

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki
• Langit tanpa badai, atau
• Bekerja tanpa merasa letih
• Hubungan tanpa kekecewaan

Menjadi bahagia adalah ��
• mencari kekuatan untuk memaafkan
• mencari harapan dalam perjuangan
• mencari rasa aman disaat ketakutan
• mencari kasih di saat perselisihan

Menjadi bahagia bukan
• hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan
• hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan
• hanya bergembira karen menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis. ��

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yg mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri. ��

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mujizat kehidupan. ��

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita, melainkan bagaimana membawa diri kita untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita di tolak.

Untuk memiliki rasa mantap ketika di kritik meskipun kritik itu tidak adil.

Dengan mencium anak - anak, merawat orang tua, menciptakan saat - saat indah bersama sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti memiliki kedewasaan untuk mengaku "Saya salah" dan memiliki keberanian untuk berkata "maafkan saya"

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantapkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah,
Jangan berhenti mengasihi orang - orang yang engkau cintai...
Jangan menyerah untuk menjadi bahagia
Karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luarbiasa .

Sunday, October 29, 2017

Pupuklah Kebaikan dalam Dirimu

RP. Yos Ivo Sinaga OFM. Cap.

“Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai. Pupuklah kebaikan dalam dirimu dengan kelemah lembutan, siramilah dengan kasih dan kamu akan menuai kebahagiaan,”

Hidup berjalan berdasarkan rencana Allah. Dia telah menata dan mengatur sejarah hidupmu kini dan yang akan datang. Bahkan sebelum lahir Ia telah mengenalmu. Hal yang indah dan terpenting dalam hidupmu ialah bahwa Allah telah penuh perhitungan “menempatkanmu” sebagai penghuni dunia ini dan dia selalu mengiringi langkah hidupmu. Dan hal terindah lagi bahwa Allah akan tetap mengasihimu walau bagaimanapun keadaan dirimu. Bahkan dosa sekali pun tidak akan mampu menghalangi kasih, rahmat dan berkat-Nya untukmu.

Para sahabat terkasih berjuanglah menjadi orang baik dan kamu bisa kalau anda mau. Muatan baik dalam artian penuh pengertian, pemahaman, penuh kelemah lembutan, dan kerendahan hati. Kebaikan itulah yang akan menghantarmu kepada kebahagiaan sejati yang telah dijanjikan Allah. Pupuklah kebaikan itu dalam dirimu. Ibu Teresa mengatakan, “Tidak semua orang mampu melakukan hal besar tetapi semua orang mampu melakukan hal kecil dengan cinta besar.”

Ada beberapa cara memupuk kebaikan dalam diri. Pertama ialah hargailaj dirimu sebagai ciptaan Allah yang baik dan luhur maka kamu juga akan menghargai orang lain. Kasihilah juga dirimu sendiri karena Ia, penciptamu juga mengasihimu, dengan itu juga kamu akan tergerak untuk mengasihi sesamamu. Dan juga cintailah dirimu karena itu akan menjadi kekuatanmu untuk menjadi pribadi yang berguna bukan hanya untukmu tetapi juga orang lain.

Kedua, pupuklah pemikiran positif terhadap sesama. Dengan jalan ini anda tidak akan merendahkan sesama. Ingatlah setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Karena itu sebelum menilai orang lain hendaknya kita lebih dahulu melihat diri. Ketika kita menunjuk orang lain dengan satu jari, beberapa jari yang lain terarah dan menunjuk diri kita sendiri.

Ketiga, kalau anda belum mampu menjadi sahabat bagi orang lain sekurang-kurangnya jangan menjadi musuh yang menjadi batu sandungan. Kalau anda belum mampu menghibur sesama sekurang-kurangnya jangan membuatnya sedih dan menangis. Kalau anda belum mampu memujinya dengan tulus jangan bergembira dan menari di atas penderitaan sesama. Dan kalau anda tidak mau membantu maka janganlah menambah beban hidup orang lain. Siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan karena apa yang ia tanam itu juga yang ia tuai. Atau dengan kata ekstrim, siapa yang menabur angin akan menuai badai, atau apa yang kamu tanam itu juga yang akan kamu tuai. (Galatia 6;7)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mateus 5;16)

KUKENANG ROSARIO ITU SEUMUR HIDUP

Tidak terasa sudah lima tahun aku menjadi pastor kepala Paroki Darah Mulia di Muenchen Bogenhausen Jerman. Pengalaman yang paling rutin adalah dipanggil untuk membantu orang-orang sakit. Pastoran paroki ini memang letaknya sangat strategis, yakni di tengah-tengah 4 klinik. Kadang-kadang larut malam bel di pintu berbunyi atau terdengar dering telepon minta bantuan untuk orang sakit.

Pada suatu malam aku sudah selesai berdoa dan siap-siap untuk tidur. Lampu kamar sudah di padamkan, tiba-tiba kedengaran bel telpon. Sebelum dua kali dering aku sudah angkat. “Ini dari klinik Schreiber. Ada seorang pasien yang sedang sekarat. Kiranya pastor bersedia datang untuk memberikan Sakramen Orang Sakit.”

Aku mencoba mengusir rasa kantuk karena sepanjang hari sudah melayani berbagai kepentingan umat. Seharusnya malam itu aku ingin beristirahat. Namun demi jiwa-jiwa aku pergi juga. Tidak lupa aku sediakan keperluan sakramen orang sakit seperti minyak suci, stolla dan juga salib. Aku genjot sepeda tua milik pastoran melintasi malam yang begitu dingin menuju rumah sakit. Seorang pria terbaring lesu. Matanya sebentar-sebentar ia buka tapi tatapannya hampa. Isteri dan puteranya sabar menunggu dan merasa lega ketika melihat pastor sudah datang. Juru rawat memang sudah memberitahukan kondisi si sakit. Tidak ada harapan, karena itu pastor diminta datang untuk memberi pertolongan terakhir.

Kondisi badannya lemah, di pergelangan tangan masih ditempel infus dan botol infus masih tergantung dengan isinya tinggal separoh. Ia sepertinya sudah pasrah, harapan untuk hidup sudah tidak ada, pihak rumah sakit  juga sudah angkat tangan.

Kepada mereka yang menunggu aku minta agar menyingkir karena aku ingin berduaan dengan si sakit. Kepadanya aku memberi bisikan mengenai harapan akan akhirat. Dan sebelum memberikan sakramen minyak suci aku mendengar pengakuannya, ia masih bisa mengucapkannya, walaupun dengan kata yang terpatah-patah. Setelah itu nampaknya wajah si pasien mulai agak tenang. Kini ia siap menghadap penciptanya.

Setelah semua perabotan sakramen aku masukkan ke dalam tas, aku pamit, tetapi tanganku dipegang isterinya, ia memandang dengan mata yang penuh harapan. “Pastor tolong tinggal sebentar lagi untuk berdoa bersamaku demi keselamatan suamiku ini” katanya sambil mengeringkan air matanya dengan sepotong tisu. Aku meletakkan kembali tasku dan mengeluarkan rosario.

Sekali lagi aku memandang si sakit, apa tidak salah? Jelas-jelas sudah tidak ada harapan. Untuk apa berdoa demi kesembuhannya lagi ? Apa lagi waktu itu sudah lewat tengah malam, mereka sendiri sudah lelah, perlu istirahat.

Tapi, supaya tidak berlaku tidak ramah pada ibu itu, aku berkata: ”Baiklah, mari kita berdoa rosario bersama-sama.” Anaknya juga mengeluarkan rosario, kami bertiga berlutut di kamar di samping pembaringan si sakit dan berdoa. Aku tak akan pernah melupakan doa rosario itu seumur hidupku. Setelah setiap persepuluhan, sang isteri, yang menurut saya adalah seorang wanita yang saleh dari Schwaebing itu menambahkan doa permintaan yang diucapkannya penuh kekhusukan. “Bunda Allah, tolonglah suamiku! Biarlah pasanganku yang tercinta ini sembuh kembali. Aku memohonkannya kepada-Mu !”

Kami menyelesaikan seluruh rosario bersama-sama, lima belas kali sepuluh Salam Maria dan 15 kali Bapa Kami. Sebelum pamit, aku masih memperhatikan keadaan si sakit. Tidak ada perubahan, ia dalam keadaan pasrah untuk menghadapi saat-saat terakhir hidupnya, matanya tenang dan wajahnya juga tenang.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, bel di pastoran berdering, putera orang sakit yang didoakan semalam itu berdiri di depan pintu, aku pikir pasti ia mau memberitahukan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia dan minta untuk membuatkan upacara pemakaman. Ternyata tidak, dengan wajah yang berseri, ia mengatakan bahwa ayahnya pagi ini nampak segar dan minta bila pastor hari ini tidak ada halangan, tolong datang ke klinik, bapanya ingin bertemu dan ingin menyampaikan sesuatu.

Aku segera pergi, ketika memasuki ruang sakit, aku sepertinya tak dapat mempercayai mataku, benarkah orang yang terbaring itu si sakit yang mendapat Sakramen Orang Sakit semalam ? Ia membuka matanya, tersenyum sambil mengulurkan tangannya, ia nampak gembira sepertinya tidak pernah mengalami saat-saat gawat menjelang kematian.

Di lorong rumah sakit aku bertemu dengan dokter yang menangani dia, dokter itu juga kaget dan heran, ia mengatakan bahwa selama pengalaman prakteknya, ia belum pernah melihat peristiwa seperti itu.

Oleh : P.Karl Maria Harrer

MENGAPA KAMU SEORANG KATOLIK?


oleh Pater William P. Saunders

Pertanyaan:

Terkadang saya bertemu dengan orang-orang yang mengatakan, "Oh, saya dulu seorang Katolik." Kemudian mereka bertanya, "Mengapakah kamu tetap tinggal dalam Gereja Katolik?" Mohon jawaban yang baik untuk menanggapi pertanyaan "Mengapa kamu seorang Katolik?"

Tanggapan:

Setiap orang Katolik sepatutnya dapat memberikan suatu jawaban yang mantap dan mendalam atas pertanyaan, "Mengapa kamu seorang Katolik?" Tentu saja, bagi tiap-tiap invidivu, jawabannya bersifat amat pribadi dan mungkin agak berbeda dari jawaban orang lain.

Saya harap, tak seorang pun dari kita yang telah dewasa akan sekedar menjawab, "Yah, karena orang tua membaptisku Katolik" atau "Aku dibesarkan secara Katolik" atau "Keluargaku semuanya Katolik." Bukan. Bagi masing-masing kita, jawabannya haruslah pribadi, dari lubuk hati dan penuh keyakinan.

Saya akan memberikan jawaban saya atas pertanyaan ini.

*Pertama-tama*, saya akan mengatakan bahwa saya seorang Katolik karena *inilah Gereja yang didirikan Yesus Kristus*. Sejarawan paling ahli sekali pun akan harus mengakui bahwa Gereja Kristen pertama yang ada sejak jaman Kristus adalah Gereja Katolik Roma. Perpecahan besar pertama dalam kekristenan baru muncul pada tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel berselisih dengan paus atas siapa yang lebih berwenang; sang Patriark mengekskomunikasi paus, yang ganti mengekskomunikasi Patriark, dan lahirlah Gereja-gereja "Orthodox". Kemudian, pada tahun 1517, Martin Luther memicu gerakan Protestan, dan ia diikuti oleh Calvin, Zwingli, dan Henry VIII. Sejak itu, Protestanisme telah terpecah-pecah menjadi banyak Gereja-gereja Kristen lainnya.

Namun demikian, satu-satunya Gereja dan Gereja Kristen pertama yang didirikan Kristus adalah Gereja Katolik. Pernyataan ini tidak berarti bahwa tidak ada kebaikan dalam Gereja-gereja Kristen lainnya. Tidak pula berarti bahwa orang-orang Kristen lainnya tidak dapat masuk surga. Tetapi, sungguh berarti bahwa ada sesuatu yang istimewa mengenai Gereja Katolik. Konsili Vatican II dalam "Konstitusi Dogmatis tentang Gereja" memaklumkan bahwa *KEPENUHAN dari sarana-sarana keselamatan ada dalam Gereja Katolik sebab inilah Gereja yang didirikan Kristus (No. 8)*.

*Alasan kedua* mengapa saya seorang Katolik ialah karena *Suksesi Apostolik. Yesus mempercayakan otoritas-Nya kepada para rasul*. Ia memberikan otoritas khusus kepada Petrus, yang disebut-Nya sebagai "batu karang" dan kepada siapa Ia mempercayakan kunci Kerajaan Allah. Sejak jaman para rasul, otoritas ini telah diwariskan melalui Sakramen Imamat dari uskup ke uskup, dan kemudian diperluas ke imam dan diakon. Uskup kita sendiri, andai mau, dapat menelusuri kembali otoritasnya sebagai seorang uskup hingga ke jaman para rasul. Dalam tahbisan imamat yang suci, Bapa Uskup menumpangkan tangannya ke atas kepala calon imam yang akan ditahbiskan. Dalam saat khidmad itu, suksesi apostolik diwariskan. Dalam terang iman, orang dapat melihat bukan saja Bapa Uskup, melainkan St. Petrus dan St. Paulus, bahkan Yesus Sendiri, menyampaikan tahbisan suci. *Tidak ada uskup, imam ataupun diakon dalam Gereja kita yang menahbiskan dirinya sendiri atau memproklamirkan dirinya sendiri; tetapi otoritas itu berasal dari Yesus Sendiri dan dijaga oleh Gereja*.

*Alasan ketiga* mengapa saya seorang Katolik adalah karena *kita percaya akan kebenaran, yakni kebenaran mutlak yang diberikan oleh Tuhan Sendiri*. Kristus menyebut Diri-Nya sebagai "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:6). Ia menganugerahkan kepada kita Roh Kudus, yang disebut-Nya Roh Kebenaran (Yoh 14:17), yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan yang akan mengingatkan kita akan semua yang telah Ia ajarkan (Yoh 14:26). Kebenaran Kristus telah dipelihara dalam Kitab Suci. Konsili Vatican II dalam "Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi" memaklumkan bahwa, "segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang ilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita" (No. 11). Kebenaran ini terus dipelihara dan diterapkan pada suatu masa dan budaya tertentu oleh magisterium, yakni otoritas mengajar Gereja. Sementara kita menghadapi berbagai macam issue seperti bioetika atau euthanasia - masalah-masalah yang tak pernah dibicarakan secara spesifik dalam Kitab Suci - betapa beruntungnya kita mempunyai Gereja yang mengatakan "Cara hidup seperti ini adalah benar atau cara ini salah menurut kebenaran Kristus." Tak heran, Gereja Katolik menjadi berita utama di surat-surat kabar; kita adalah satu-satunya Gereja yang berpendirian tegas dan mengatakan, “Ajaran ini adalah benar selaras dengan pemikiran Kristus.”

*Alasan lain* mengapa saya seorang Katolik adalah *karena sakramen-sakramen kita*. Kita percaya akan ketujuh sakramen yang dianugerahkan Yesus kepada Gereja. Masing-masing sakramen menangkap suatu unsur penting dari kehidupan Kristus, dan melalui kuasa Roh Kudus mendatangkan bagi kita keikutsertaan dalam kehidupan ilahi Allah. Sebagai contoh, coba renungkan betapa anugerah mahaberharga kita boleh menyambut Ekaristi Kudus, Tubuh dan Darah Tuhan kita, atau menyadari bahwa dosa-dosa kita telah sungguh diampuni dan jiwa kita dipulihkan setiap kali kita menerima absolusi dalam Sakramen Tobat.

Dan yang *terakhir*, saya seorang Katolik *karena orang-orang yang membentuk Gereja*. Saya mengenangkan begitu banyak para kudus: St Petrus dan St Paulus yang memelihara agar Injil hidup pada masa-masa awali. Pada masa penganiayaan Romawi, para martir awal Gereja—seperti St. Anastasia, St. Lusia, St. Yustinus atau St. Ignatius dari Antiokhia, yang pada tahun 100 menyebut Gereja "Katolik"—membela iman dan menderita aniaya maut karenanya. Pada Abad-abad Kegelapan, ketika banyak hal sungguh "gelap", memancarlah terang yang benderang dari St. Fransiskus, St. Dominikus dan St. Katarina dari Siena. Pada masa gerakan Protestan, ketika bidaah mengoyak Gereja, Gereja dibela oleh St. Robertus Bellarminus dan St. Ignatius Loyola, para reformator sejati. Saya berpikir mengenai para kudus yang hidup di jaman kita, seperti Moeder Teresa atau Paus Yohanes Paulus II, yang dari hari ke hari melakukan karya kudus Allah. Ada begitu banyak para kudus yang mengilhami masing-masing kita untuk menjadi warga Gereja yang baik.

Tetapi ada mereka-mereka yang lain juga. Pada waktu Misa, arahkanlah pandangan ke sekeliling gerejamu. Lihatlah pasangan-pasangan suami isteri yang berjuang untuk mengamalkan Sakramen Perkawinan dalam abad yang memperturutkan hawa nafsu dan perselingkuhan. Lihatlah orang-orangtua yang rindu mewariskan iman kepada anak-anak mereka. Lihatlah kaum muda yang berjuang untuk mengamalkan iman kendati dunia yang penuh pencobaan. Lihatlah kaum lanjut usia yang tetap setia kendati perubahan-perubahan dalam dunia dan Gereja. Lihatlah para imam dan kaum religius yang membaktikan hidup mereka demi melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Ada begitu banyak orang yang membentuk Gereja kita.

*Ya, tak seorang pun sempurna. Kita berdosa. Itulah sebabnya mengapa salah satu doa terindah dalam Perayaan Misa dipanjatkan sebelum tanda damai; kita berdoa, "Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu." Ya, kendati segala kelemahan manusia, Gereja, sebagai lembaga yang didirikan oleh Kristus, terus melaksanakan misi-Nya di dunia ini.*

Singkat kata, itulah alasan-alasan mengapa saya seorang Katolik dan seorang warga Gereja Katolik Roma. Alasan-alasan ini bukanlah asal. Melainkan, mencerminkan permenungan mendalam dan pergulatan, setelah dibaptis Katolik, setelah melewatkan masa pendidikan di sekolah St Bernadette, setelah lulus dari SMA West Springfield, dan setelah pergumulan sengit dengan iman sepanjang hari-hari perkuliahan di William and Mary dan kemudian di Seminari. Saya harap setiap orang Katolik dapat dengan bangga memberikan suatu jawaban yang jelas dan mendalam atas pertanyaan, "Mengapa kamu seorang Katolik?"

******************************

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

Sumber: "Straight Answers: 'Why Are You A Catholic?'" by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1997 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.
http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id139.htm

Saturday, March 4, 2017

Ego yang tinggi

Retaknya suatu relasi (suami-istri, tunangan, sahabat, teman atau pun rekan bisnis) bukan pertama2 karena adanya konflik atau pertengkaran, tapi pada ego yang tinggi pada salah satu patner atau bisa pada kedua2nya.

Ego yg tinggi, membuat kita merasa lebih dari yang lain, menguasainya, karena ia merasa tahu segalanya tentang patnernya. Ia melihat dan mengukur kebenaran menurut ukuran dirinya sendiri. Ia kemudian bersikap acuh tak acuh, bahkan terkesan angkuh dan sombong sebab ia merasa diri yang paling benar, dan memegang kendali terhadap situasi. Hal ini yang kemudian menyebabkan ia menutup hatinya sehingga menerima atau mengatakan maaf adalah tindakan yg ia rasa membuatnya kelihatan lemah dan kalah. Kata maaf yang tulus dari orang lain dilihatnya sebagai kebohongan dan kepura-puraan. Ia memasang tembok untuk dirinya sendiri terhadap orang lain.

Saya atau anda mungkin pernah atau bahkan hingga saat ini memiliki ego yang demikian. Jika tujuan utama kita dalam berelasi ada membangun relasi tersebut maka sdh tentu kita harus merendahkan ego kita yang tinggi. Jika ingin tetap mempertahankan ego tersebut, maka kita tak akan pernah berhasil menjalin relasi dgn siapa saja. Relasi tersebut akan selalu gagal, gagal, dan gagal lagi. Pilihanmu menentukan kebahagianmu.

Friday, March 3, 2017

Kesetiaan

Ketika kita memutuskan atau berkomitment sesuatu terhadap Tuhan, diri sendiri atau pun dengan orang lain, di saat yg sama keputusan dan komitmen kita akan mulai dicobai, diuji apakah kita akan tetap setiap terhadap apa yg telah dikomitmenkan atau terhadap apa yg telah diputuskan. Ujian dan cobaan itu bisa sangat jelas kita ketahui namun juga bisa sangat halus dan terkadang tanpa disadari.

Apa pun keputusan dan komitmen yg akan kita buat, Berharaplah terus pada-Nya, sebab perjuangan untuk tetap setia hingga akhir hanya mungkin oleh karena-Nya. Bukan hanya karena kekuatan kita atau pun hanya karena bantuan dari orang lain tapi karena hanya Dia yang mampu memberikan kita kekuatan, kesabaran dan ketabahan dalam perjuangan untuk setia hingga akhir.

Tuesday, October 4, 2016

JADIKAN HATIKU ISTANA CINTAMU


Lagu & Tata Suara : L. Putut Pudyantoro
Do=Bes; 4/4; 1/4=80


Siapakah aku dihadapanMu Tuhan
Kau curahkan cintaMu
Apakah artiku bagiMu
CintaMu setia selalu
Pantaskah ku menyambut tubuh darahMu
Karena banyak dosaku
Sering ku ingkari cintaMu
Dalam langkah hidupku

Ampunilah aku, ampuni kelemahanku
Ampuni dosaku dalam kerahimanMu
Agar ku mampu wartakan kasihMu
Di dalam hidupku
Bersihkan hatiku dengan sucinya cintaMu
Jadikan hatiku istana cintaMu
Tempat yang layak untuk bersemayam
Tubuh dan darahMu

Wednesday, September 28, 2016

You are my sunshine

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
Please don't take my sunshine away.

You are the sunshine of my life
That's why I'll always be around,
You are the apple of my eye,
Forever you'll stay in my heart

I feel like this is the beginning,
Though I've loved you for a million years,
And if I thought our love was ending,
I'd find myself drowning in my own tears